13 HARI LAGI MUNAS KPA: Suara Wilayah Kalimantan dan Sulawesi

SUARA WILAYAH KALIMANTAN DAN SULAWESI

JAKARTA (13/2/13) — Menjelang Munas VI KPA, mendengar suara dari wilayah tentu saja menjadi kebutuhan penting. Untuk itu, Anggota Dewan Nasional KPA dari sejumlah region mencoba memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi agraria di wilayahnya, serta harapan bagi KPA ke depan.

Ada tiga hal yang coba digali: (1) Apa yang menjadi masalah agraria paling krusial di wilayah selama 3 tahun terakhir?; (2) Apa yang menjadi kekuatan/kelebihan dan kelemahan/kekurangan KPA dalam merespon kondisi agraria di lapangan selama ini?; (3) Apa yang diharapkan/diusulkan untuk dilakukan dalam memperkuat kerja-kerja KPA ke depan? Pada bagian ini akan ditampilkan temuan dan pandangan dari Anggota Dewan Nasional KPA yang ada di Kalimantan dan Sulawesi.

Berikut itu temuan dan pandangan Muhammad Saleh (Anggota DN KPA Region Kalimantan bagian timur). Menurut Saleh, pertama-tama yang menjadi masalah paling krusial di Kalimantan Selatan adalah semakin besarnya eksploitasi pertambangan di lahan-lahan masyarakat bahkan sudah masuk ke kampung sehingga tanpa ganti rugi atau penyelesaian yang benar.

Kedua, yang menjadi kelemahan ialah kurangnya respon dan keterlibatan KPA. Hal ini dikarenakan masih banyak yang tidak tahu dengan KPA, apa saja yang bisa dillakukan KPA, kurangnya sosialisasi menjadi kendala. Tidak jalannya agenda kerja yang kemarin diputuskan di Rakernas KPA.

Ketiga, untuk ke depan harus ada wadah atau sekretariat KPA di setiap wilayah untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi. Perlu komunikasi yang lebih kuat ke pemerintah daerah agar keterlibatan KPA dalam membantu penyelesaian konflik lebih kuat, bikin agenda/program yang jelas yang bisa dilakukan di daerah. Demikian tutur Saleh.

Sementara itu, Mansyur M. Yahya (Anggota DN KPA Region Sulawei bagian utara) menggambarkan bahwa, pertama masalah utama yang masih mewarnai wilayah Sulbagut adalah hilangnya hak-hak petani atas tanah kelolanya akibat ekspansi perkebunan (umumnya sawit) dan pertambangan (gas, emas, nikel) serta penetapan wilayah konservasi secara sepihak oleh pemerintah. Pembangunan infrastruktur perkotaan, khususnya daerah pemekaran baru juga turut andil dalam merubah wajah agraria di Sulbagut.

Kedua, sebenarnya KPA memiliki anggota yang terlibat langsung dalam setiap persoalan agraria di Sulbagut. Namun tidak adanya struktur di wilayah, khususnya KPA Wilayah yang bertugas mengkoordinasikan proses dan informasi menyebabkan lemahnya upaya organisasi dalam penyelesaian persoalan agraria di Sulbagut. Sedangkan anggota DN tidak dapat menanganinya selain karena wilayah geografis yang sangat luas, Anggota DN juga tidak memiliki sumberdaya yang cukup untuk mendinamisir proses. Lemahnya internalisasi program KPA ke anggota juga turut andil dalam pelemahan koordinasi tersebut.

Ketiga, harapan dan ide untuk penguatan cukup banyak yang diusulkan anggota, seperti bagaimana Seknas KPA bisa mendistribusikan informasi dan mengkoordinasikan proses penyelesaian persoalan agraria langsung ke semua anggota. Pembangunan KPA Wilayah. Konsolidasi anggota di setiap hari tani. Pelatihan dan kursus petani dan aktivis agraria. Tetapi yang terpenting adalah pembangunan struktur KPA di semua wilayah dan mengkoordinirnya agar bisa mengemban amanah pembaruan agraria yang membutuhkan energi yang sangat besar, kuat dan terorganisir. Demikian pungkas Mansyur.

Sementara itu, Kisran Fadhil (Anggota DN KPA Region Sulawei bagian selatan) menenggarai bahwa, pertama yang paling krusial ialah masalah perkebunan sawit, tebu dan pertambangan. Di Sulbagsel hal ini menjadi sasaran ekspansi perusahaan kebun dan tambang.

Kedua, kekuatan elemen-elemen gerakan rakyat dan masyarakat sipil lainnya dapat lebih dikonsolidasikan lagi sehingga lebih kuat. Kelemahan dan kekurangan selama ini adalah kurangnya konsolidasi, komunikasi antar anggota KPA dan KPA Wilayah serta basis rakyat yang didampingi. Ketiga, ke depan perlu adanya konsolidasi yang terus menerus, pendidikan penyadaran pada masyarakat dampingan, dan pendidikan bagi kader-kader KPA yang ditunjang dengan adanya sekretariat. Demikian papar Kisran.

Begitulah sekilas potret kondisi agraria terkini di region Kalimantan dan Sulawesi, serta sepenggal harapan dari wilayah bagi perbaikan KPA ke depan, sebagaimana disampaikan Mohammad Saleh, Mansyur M Yahya, dan Kisran Fadhil. Semoga gairah untuk terus memperkuat gerakan reforma agraria di wilayah tak pupus oleh waktu, sekalipun beragam hambatan masih melintang. ***tanisa***SUARA WILAYAH KALIMANTAN DAN SULAWESI

JAKARTA (13/2/13) — Menjelang Munas VI KPA, mendengar suara dari wilayah tentu saja menjadi kebutuhan penting. Untuk itu, Anggota Dewan Nasional KPA dari sejumlah region mencoba memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi serta harapan yang ditujukan bagi KPA ke depan.

Ada 3 (tiga) hal yang coba digali: (1) Apa yang menjadi masalah agraria paling krusial di wilayah Sulbagsel selama 3 tahun terakhir?; (2) Apa yang menjadi kekuatan/kelebihan dan kelemahan/kekurangan KPA dalam merespon kondisi agraria di lapangan selama ini?; (3) Apa yang diharapkan/diusulkan untuk dilakukan dalam memperkuat kerja-kerja KPA ke depan?

Berikut itu temuan dan pandangan Muhammad Saleh (Anggota DN KPA Region Kalimantan bagian timur). Menurt Saleh, pertama-tama yang menjadi masalah paling krusial di Kalimantan Selatan adalah semakin besarnya eksploitasi pertambangan di lahan-lahan masyarakat bahkan sudah masuk ke kampung sehingga tanpa ganti rugi atau penyelesaian yang benar.

Kedua, yang menjadi kelemahan ialah kurangnya respon dan keterlibatan KPA. Hal ini dikarenakan masih banyak yang tidak tahu dengan KPA, apa saja yang bisa dillakukan KPA, kurangnya sosialisasi menjadi kendala. Tidak jalannya agenda kerja yang kemarin diputuskan di Rakernas KPA.

Ketiga, untuk ke depan harus ada wadah atau sekretariat KPA di setiap wilayah untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi. Perlu komunikasi yang lebih kuat ke pemerintah daerah agar keterlibatan KPA dalam membantu penyelesaian konflik lebih kuat, bikin agenda/program yang jelas yang bisa dilakukan di daerah. Demikian tutur Saleh.

Sementara itu, Mansyur M. Yahya (Anggota DN KPA Region Sulawei bagian utara) menggambarkan bahwa, pertama masalah Utama yang masih mewarnai wilayah Sulbagut adalah hilangnya hak-hak petani atas tanah kelolanya akibat ekspansi perkebunan (umumnya sawit) dan pertambangan (gas, emas, nikel) serta penetapan wilayah konservasi secara sepihak oleh pemerintah. Pembangunan infrastruktur perkotaan, khususnya daerah pemekaran baru juga turut andil dalam merubah wajah agraria di Sulbagut.

Kedua, sebenarnya KPA memiliki anggota yang terlibat langsung dalam setiap persoalan agraria di Sulbagut. Namun tidak adanya struktur di wilayah, khususnya KPA Wilayah yang bertugas mengkoordinasikan proses dan informasi menyebabkan lemahnya upaya organisasi dalam penyelesaian persoalan agraria di Sulbagut. Sedangkan anggota DN tidak dapat menanganinya selain karena wilayah geografis yang sangat luas, Anggota DN juga tidak memiliki sumberdaya yang cukup untuk mendinamisir proses. Lemahnya internalisasi program KPA ke anggota juga turut andil dalam pelemahan koordinasi tersebut.

Ketiga, harapan dan ide untuk penguatan cukup banyak yang diusulkan anggota, seperti bagaimana Seknas KPA bisa mendistribusikan informasi dan mengkoordinasikan proses penyelesaian persoalan agraria langsung ke semua anggota. Pembangunan KPA Wilayah. Konsolidasi anggota di setiap hari tani. Pelatihan dan kursus petani dan aktivis agraria. Tetapi yang terpenting adalah pembangunan struktur KPA di semua wilayah dan mengkoordinirnya agar bisa mengemban amanah pembaruan agraria yang membutuhkan energi yang sangat besar, kuat dan terorganisir. Demikian pungkas Mansyur.

Begitulah sekilas potret kondisi agraria terkini di region Kalimantan dan Sulawesi, serta sepenggal harapan dari wilayah bagi perbaikan KPA ke depan, sebagaimana disampaikan Mohamad Saleh dan Mansyur M Yahya. Semoga gairah untuk terus bergerak memperkuat gerakan refroma agraria di wilayah tak pupus oleh waktu sekalipun berbagai hambatan masih melintang. ***tanisa***

Tag : 

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934