Peran Mahasiswa dan Perempuan dalam Mengawal Pembangunan dan Keadilan Agraria

Al Ayubi

Indramayu (kpa.or.id) – Mahasiswa dalam sejarahnya turut memegang peranan penting dalam perjalanan dinamika sosial bangsa dan negara. Hal tersebut terbukti dari berbagai aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dari masa ke masa. Terutama dalam mengawal kebijakan dan penyelenggaraan politik pemerintah.
 
Agar peran tersebut tetap bisa terlaksana, mahasiswa dituntut untuk memiliki kapasitas yang mumpuni baik dari segi pengetahuan, pengalaman, wawasan, serta yang terpenting kepekaan akan identitas dan kondisi sosial yang ada.
 
Selain kampus sebagai tempat belajar formal, organisasi juga bisa dimanfaatkan sebagai ruang yang ideal bagi mahasiswa guna mendapatkan berbagai kapasitas yang tidak didapatkan dalam proses perkuliahan.
 
Hal ini yang menjadi fokus dari penyelenggaraan Simposium Nasional dan Sekolah Kader Kopri (SKK) Se-Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada Selasa (22/8), di Gedung PC NU Kabupaten Indramayu.
 
Mamay Muthmainnah, Ketua Pengurus Kopri Kabupaten Indramayu, menerangkan bahwa kegiatan yang telah berlangsung sejak Minggu (20/8) ini merupakan kegiatan pembelajaran bagi para kader PMII terutama perempuan dari perwakilan cabang yang ada di wilayah Jawa Barat.
 
“Ini merupakan pendidikan tingkat lanjut yang bertujuan untuk membentuk kader Kopri yang berideologikan Ahlussunnah Wal Jamaah, militansi dan loyal kepada organisasi”, terang Mamay.
 
Sekjend KPA, Dewi Kartika, turut diundang sebagai pembicara pada hari ketiga, Selasa (22/8). Dewi diminta memberikan materi dengan tema ‘Menghadapi Pembangunan yang Anti Gender’.
 
Dewi juga menerangkan pentingnya peran mahasiswa khususnya perempuan dalam mengawal kebijakan pembangunan dan isu agraria, dengan berkaca pada beberapa kasus yang terjadi belakangan seperti proyek pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka yang kini tinggal menyisakan satu desa, hingga perjuangan warga Kendeng yang masih terus konsisten dalam menolak pembangunan pabrik semen di Jawa Tengah.
 
“Apa artinya pembangunan jika pembangunan seperti itu berdiri di atas proses-proses penyingkiran komunitas dan masyarakat yang ada” tegas Dewi.
 
Vivi, salah satu peserta SKK perwakilan dari Kabupaten Bandung menanyakan mengenai peran seperti apa yang perlu dilakukan mahasiswa dalam melihat fenomena ketidakadilan di bidang agraria.
 
Dewi menjawab bahwa begitu banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa terutama perempuan. Dari mulai terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui, merasakan dan membantu rakyat di desa, hingga yang terkecil yakni dengan turut bersuara di sosial media dalam menganggapi isu-isu kerakyatan.
 
“Selemah-lemahnya iman adalah ikut bersolidaritas. Level terkecilnya bisa dilakukan seperti ikut menyuarakannya di sosial media. Mulai peduli dan berempati dengan masalah-masalah agraria,” ujar Dewi.
 
Melalui pendidikan bertema ‘Peran Perempuan Sebagai Ujung Tombak Perubahan Sosial di Era Global’ ini, Mamay berharap agar para kader Kopri PMII khususnya di Jawa Barat dapat mengembangkan kaderisasi Kopri di wilayah cabangnya masing-masing. (AL)

Berita Lainnya

Peristiwa

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934