Praktek Aneh Pertambangan Galian C di Desa Labuan Toposo, Donggala

GIFVENTS, S.H.

1. GAMBARAN MASALAH.

 Pada Tanggal 21 Agustus 2015, Pukul 14:00 Wita  di lakukan pertemuan di  kantor Desa Labuan Toposo  yang membahas  terkait tindak lanjut pertemuan tanggal 15 Agustus 2015 tentang Pemberhentian dua  Perusahaan  pertambangan Galian C.[1] Pertemuan tersebut dilatar belakangi adanya protes dari petani pengguna air  di desa Labuan Toposo, karena aktivitas perusahaan, dinilai sudah berdampak buruk pada lingkungan seperti abrasi yang mengakibatkan robohnya irigasi dan bendungan serta keringnya mata air yang selama ini digunakan untuk lahan pertanian.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Assisten Polsek Labuan (Bhabinkantikmas), Kepala Desa berserta aparatur desa, dan pihak  kecamatan yang menyepakati pemberhentian kerja  3 perusahaan  antara lain CV. Putra Labuan, CV. Lelea Ratan, & CV. Remethana yang  masing-masing mendapat termbusan dari hasil pertemuan tersebut.[2]

Masalah tersebut muncul disebabkan karena adanya izin perpanjangan produksi pertambangan kepada CV. Remethana yang bernomor 188.45/0329/DESDM/2013 dari Bupati Donggala yang saat itu masih dijabat oleh  Drs. H. Habir Ponulele, MM. Tertanggal 8 April 2013 – 8 April 2018 seluas 10 Ha. di wilayah Sungai Roto Desa Labuan Toposo.[3]  Bukannya melakukan evaluasi dan moratorium malah Bupati Donggala Dr. Kasman Lassa, S.H mengeluarkan izin perpanjangan  kepada CV. Labuan Lelea Ratan yang  bernomor 188.45/0164/DESDM/2015 yang juga  berlokasi  di Desa Labuan Toposo, Labuan Lelea, dan Labuan Induk seluas  20 Ha[4]

Namun  terdapat keanehan dalam lampiran dua Izin Usaha Pertambangan (IUP) tersebut diantaranya pada klausul “memperhatikan’ tidak ada rekomendasi dari  Masyarakat dan pemerintah desa terkait perpanjangan izin kepada perusahaan. pada CV Labuan  Lelea Ratan malah tidak mencantumkan nilai saham dan tanggal berlaku dan berakhirnya IUP, semoga Dinas ESDM Kabupaten Donggala tidak salah ketik lagi, seperti yang terjadi pada PT Mutiara Alam Perkasa (PT. MAP) di Desa Batusuya.

Pada tanggal 31 Agustus 2015 Kepala Desa Labuan Toposo menyampaikan surat kepada operator alat CV. Remethana  atas  keberatan masyarakat dan diharapkan penggalian pasir dihentikan untuk sementara sambil menunggu pertemuan berikutnya.[5]

Perusahaan tersebut mengabaikan surat kepala desa dan tetap melakukan pengerukan pasir di sungai roto, pada tanggal 7 September 2015, pukul  15:30 Wita, sekitar 100 meter dari penggalian, masyarakat melihat alat berat perusahaan melakukan aktivitas pengerukan pasir. Hal tersebut sontak memancing emosi masyarakat, sekitar 60an orang masyarakat mendatangi lokasi penggalian pasir tersebut dan meminta operator alat berat perusahaan menghentikan aktivitasnya. Setibanya dilokasi operator alat mematikan mesin alat berat dan berhenti mengeruk dengan alasan alat rusak, ketika didesak oleh masyarakat untuk memindahkan alat berat kembali ke tempat stock file (tempat penyimpanan pasir)  didesa Labuan Induk, ternyata diketahui alat berat tidak mengalami kerusakan, hal tersebut memicu emosi masyarakat yang berujung pada pelemparan[6]

Setelah terjadi pelemparan pihak perusahaan melaporkan kejadian pelemparan alat berat tersebut kepada Polsek Labuan, sehingga pada  12 Oktober 2015,  6 orang masyarakat Desa Labuan Toposo dipanggil untuk diperiksa tanggal 15 Oktober 2015 Pukul 09.00 Wita di Polsek Labuan, terkait keperluan penyidikan dugaan pengrusakan alat berat perusahaan berikut nama masyarakat yang dipanggil :

  1. Badu, Pekerjaan Petani, Desa Labuan Toposo, Surat Panggilan Nomor : S.Pgl/91/X/2015/Sek Lbn.
  2. Umar, Pekerjaan Petani, Desa Labuan Toposo, Surat Panggilan Nomor : S.Pgl/92/X/2015/Sek Lbn.
  3. Amir, Pekerjaan Petani, Desa Labuan Toposo, Surat Panggilan Nomor : S.Pgl/93/X/2015/Sek Lbn.
  4. Suki, Pekerjaan Petani, Desa Labuan Toposo, Surat panggilan Nomor : S.Pgl/94/X/2015.Sek Lbn
  5. Zamu, Pekerjaan Petani, Desa Labuan Toposo, Surat Panggilan Nomor : S.Pgl/95/X/2015/Sek Lbn.
  6. Sud, Pekerjaan Petani, Desa Labuan Toposo, Surat Panggilan Nomor : S.Pgl/96/X/2015/Sek Lbn.[7]

Selain itu praktek intimidasi lain dilakukan pada tanggal 8 Oktober 2015,Setelah aksi pihak kepolisan mendatangi rumah liswanto sekitar tiga orang, untuk menanyakan siapa yang melakukan pelemparaan.

2. TEMUAN LAPANGAN.

  1. Izin Usaha Pertambangan CV. Remethana, dan CV Labuan Lelea Ratan terbukti melanggar ketentutan perizinan diantaranya Putusan MK No 32/PUUU-VIII/2010 tentang tahapan konsultasi pada masysarakat dalam penetapan IUP pada pasal 10 UU Nomor 04 Tahun 2009 Tentang
  2. Perusahaan menutup infomasi AMDAL dan UKL/UPL kepada masyarakat, hal tersebut di nilai melanggar UU Nomor 14 Tahun 2008 Tentang keterbukaan Informasi Publik.
  3. Wilayah IUP CV. Remethana, CV Labuan Lelea Ratan & CV. Putra Labuan di duga tumpang tindah.
  4. Sebelum adanya aktivitas tambang, pada saat intensitas hujan tinggi, arus sungai tidak merusak namun setelah adanya aktivtas tambang arus sungai sangat deras sampai menghanyutkan rumah warga
  5. Pada saat musim kemarau, sebelum adanya aktifitas tambang, Sumur tidak mengering, namun setelah adanya aktifitas tambang sumur warga menjadi kering
  6. Bendungan Sambenusu Rusak
  7. Kerugian petani saat bendungan rusak.
Jenis Tanaman Luas (Hektar) Lokasi
*) Tanaman Tomat 10 Ha Labuan Toposo
*) Tanaman kacang 15 Ha Labuan Toposo
*) Tanaman Jagung 30 Ha Labuan Toposo
*) Tanaman Rica keriting 3 Ha Labuan Toposo
*) Tanaman Rica keriting 3 Ha Labuan panimba
*) Tanaman Rica keriting 4 Ha Labuan Panimba
  1. Warga yang kehilangan lahan pertanian akibat abrasi yang diakibatkan pengerukan pasir oleh perusahaan.
Nama Jenis Tanaman Luas
Basolia Coklat 50 PohonPisang 70 Pohon  
Yunus Pohon kapuk 3 batangCoklat 22 pohon

 

Kelapa 8 pohon

 
Lakoma Kacang tanahJaagung ¼ Ha
Yasin Kacang tanah siap panen ¼ Ha
Jariah Coklat 125 pohonKapuk 5 Pohon

 

Vanili 40 Pohon

 
Yamaia Coklat 145 Pohon  
Yade Coklat 30 PohonKelapa 6 Pohon  
Umar Kelapa 120 pohon  
Liswanto Labu Ceper ¼ ha
Tisu Kelapa 7 pohon  
Usrin Kelapa 15 pohonCoklat 27 pohon

 

Pisang 38 Pohon

 
Irsan Alpokat 15 pohonCoklat 50 pohon  
  1. Hentikan Kriminalisasi Petani Di Desa Labuan Toposo
  2. Bentuk Pansus Investigasi Penyalahgunaan Wewenang Perizinan Tambang Di Labuan Toposo.
  3. Mereview keembali Izin Pertambangann CV Remethana, CV Labuan Lelea Ratan dan CV. Putra Labuan  yang wilayah di duga  saling tumpang tindih.
  4. Merehabilitasi kondisi lingkungan yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat

 

Penulis
NAMA               : GIFVENTS, S.H.
JABATAN         : Koordinator Divisi Advokasi Kebijakan Lembaga Bantuan
Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan  (LBH APIK) Sulteng.
Kontak             : 0852 4141 7270

[1] . Undangan  Pertemuan Nomo 233/Pemdes-LT/VIII/2015

[2] .  Berita Acara Kesepakatan & Daftar Hadir

[3].  Izin Usaha Pertambangan  (IUP) CV. Remethana

[4] . Izin Usaha Pertambangan (IUP) CV. Labuan Lelea Ratan

[5] .  Surat Pemberitahuan Oleh Kepala Desa tanggal 31 Agustus 2015

[6] . Kronologi Aksi Masyarakat Desa Labuan Toposo Tgl 7 September 2015

[7] . Surat Panggilan Polsek Labuan 12 Oktober 2015.

Opini Lainnya..

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934