(Tulisan ini karya Bonnie Setiawan, salah satu anggota Dewan Pakar KPA. Judul asli tulisan ini “Belajar dari Hugo Chavez, Membuat Revolusi untuk Mensejahterakan Rakyat” (FB, 6/3/13). Kita layak turut berduka cita atas wafatnya Hugo Chavez karena dia adalah salah satu dari sedikit contoh pemimpin dunia sekarang yang ketika berkuasa berani menjalankan reforma agraria di negaranya, Venezuela. Chavez yang terinspirasi oleh Bung Karno layak menjadi cermin bagi siapa pun yang akan maju jadi Capres RI di masa depan. Salam agraria. ***tanisa***)

Membaca buku ini, kita disadarkan bahwa Chavez senyatanya adalah seorang konstitusionalis. Di balik retorika revolusionernya, Chavez sesungguhnya adalah seorang revolusioner konstitusionalis. Dan yang hebat dari Chavez, konstitusi ini adalah pengejawantahan dari kekuatan konstituensi (nama lain dari rakyat banyak atau berbagai kelompok-kelompok kemasyarakatan yang memberikan mandat kepada sebuah pemerintah). Ia menyebutnya sebagai ‘konstitusi revolusioner” yang memberi legitimasi penuh agar kekuatan rakyat sebagai konstituen utama bisa bangkit dan kuat.

Apa yang terjadi saat ini di Venezuela, adalah unik dan spesial. Dan buku ini memberikan penjelasannya secara memadai dari orang yang paling bertanggungjawab terhadap gerak dan perkembangan politik mutakhir di Venezuela, Kol. (purn) Hugo Chavez Friar. Hugo Chavez adalah manusia unik, karena ia mematahkan banyak mitos revolusi. Sebagaimana diketahui, revolusi dalam kamus kiri adalah revolusi rakyat, di mana inisiator dan penggeraknya adalah kelas paling revolusioner dalam sistem kapitalisme, yaitu kelas buruh (Marx dan Lenin) dan kelas petani (Mao). Di luar itu adalah tabu, dan biasa disebut sebagai ‘petualang’ atau revisionis. Sejarah perebutan kekuasaan a’la Marxisme bersandar pada revolusi rakyat ini. Tanpa rakyat yang ber-revolusi, maka itu tidak bisa disebut sebagai revolusi. Apalagi istilah ‘kudeta’, adalah sesuatu yang tabu untuk dijalankan di dalam Marxisme, karena kudeta berarti petualangan borjuis kecil yang bersifat subyektivis. Karena itu misalnya gerakan G30S di tahun 1965 lewat kudeta, adalah tabu untuk dijalankan oleh PKI. PKI harus melalui revolusi rakyat untuk mencapai kekuasaan. Masih menjadi perdebatan, siapa yang memicu kudeta G30S. Akan tetapi kudeta jelas keluar dari pakem sebuah revolusi Marxis.

Beruntung bahwa Hugo Chavez bukanlah seorang Marxis. Dia juga bukan anggota Partai Komunis Venezuela atau partai Marxis lainnya, sehingga tidak bisa dihujat oleh partainya. Ia adalah anggota militer, Kolonel Parakomando (Kopassus kalau di Indonesia), yang mempunyai keberpihakan kepada rakyat kecil. Karenanya ia tidak bisa dicap revisionis atau petualang. Hugo Chavez dengan kelompok militernya, MBR 200 (Gerakan Bolivarian revolusioner) yaitu sebuah gerakan militer-sipil terkoordinir baik, yang memulai perubahan revolusioner di Venezuela. Mereka berasal dari taruna-taruna universitas militer yang lulus tahun 1970an (Chavez lulus tahun 1975), yang kemudian menjadi instruktur-instruktur militer yang menyemai ide revolusi kepada tentara-tentara muda angkatan 1980-1983. Inilah kelompok inti gerakan yang sampai sekarang menjaga keberlangsungan revolusi Bolivarian tersebut. Disamping itu, mereka mempunyai komite-komite Bolivarian, kelompok-kelompok kecil sipil yang merupakan sambungan mereka ke basis rakyat. Menurutnya, “Kami beranjak dari organisasi militer klandestin menjadi sebuah gerakan rakyat, kendati selalu ada sebuah kehadiran militer, itu adalah sebuah gerakan sipil-militer.”

Karena tidak berdasarkan kaidah kiri yang umum, maka pertama kali banyak orang tidak bisa mengidentifikasi siapa Hugo Chavez dan kelompoknya ini. Akan tetapi mereka maju terus dengan ide-idenya, khususnya ide-ide revolusioner dari Bapak Revolusi Amerika Latin, Simon Bolivar. Yang menarik, meskipun Chavez bukan seorang Marxis, ia juga bukan anti-Marxis. Ia juga bukan anti-komunis. Chavez adalah seorang kiri, yang mengambil banyak ide dari beragam orang-orang revolusioner, baik itu Komunis, Marxis, Populis, Nasionalis, dan lainnya. Katanya, “dengan Torrijos, saya menjadi seorang torrijista; dengan Velasco, saya menjadi seorang velasquista. Dan dengan Pinochet, saya menjadi seorang anti-pinochetista.” Chavez intinya adalah seorang progresif-revolusioner (meminjam istilah Bung Karno) yang terbakar hati dan jiwanya oleh penderitaan rakyat dan karenanya berkehendak berjuang merubah sistem agar bisa membawa kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat kecil. Ia lebih mirip seorang ‘eklektik’, seperti Bung Karno, yang meminjam dan memakai semua ide-ide revolusioner kiri, tetapi menjalankannya dengan gayanya sendiri.

Dan Chavez juga bukanlah sekedar petualang revolusioner, tetapi sungguh-sungguh menjalankan perebutan kekuasaan secara sistematis dan terencana. Pertama, lewat kudeta yang gagal di tahun 1992. Kedua, barulah mengikuti Pemilu yang dimenangkannya secara sukses di tahun 1998 lewat 56% suara. Keunikan Chavez adalah membalikkan proses, merebut kekuasaan dulu secara konstitusional, baru menjalankan revolusi. Alih-alih Chavez membangun kekuatan buruh dan tani, Chavez justru menjalankan proyek Majelis Konstitusi, sebuah kendaraan yang akan dipakainya untuk di kemudian hari menjalankan proses transisi politik ke tahap revolusi. Majelis Konstituante ini adalah alat untuk mengorganisir gerakan kerakyatan. Agendanya adalah meningkatkan standar kehidupan rakyat, mempertahankan kedaulatan nasional, dan memperkuat kekuasaan yang setara dengannya. Yang menarik ide ini berasal dari sebuah survei yang dijalankan terlebih dahulu terhadap sekitar 100.000 orang antara tahun 1996-1997 yang menyimpulkan bahwa “sebagian besar rakyat tidak menginginkan sebuah gerakan kekerasan, namun mereka lebih mengharapkan agar kami mengorganisir sebuah gerakan politik yang terstruktur untuk mengambil alih negeri melalui jalur yang tepat.” Inilah kiranya yang unik dari revolusi Bolivarian a’la Chavez, yaitu revolusi konstitusionalis, percaya kepada perebutan kekuasaan secara konstitusional, damai dan sesuai ‘rule of law’; sementara di lain pihak konsisten setia kepada amanat penderitaan rakyat sampai akhir (slogannya yang terakhir adalah “Sosialisme atau Mati”), serta merubah konstitusi dan Undang-undang yang konsisten dengan perjuangan tersebut.

Apa yang terjadi di Venezuela sekarang adalah sebuah proyek eksperimentasi bagi mewujudkan sebuah “Sosialisme Abad 21”, demikianlah yang dikatakannya setelah memenangkan Pemilu terakhirnya, Desember 2006. Apa yang menarik dari Chavez adalah sikapnya yang terbuka, tidak sektarian, tidak sempit, setia kepada rakyat kecil dan percaya kepada revolusi damai dan demokratis. Bagi banyak kalangan Marxis, ia akan tetap di cap sebagai revolusi Borjuis kecil. Tetapi mungkin itulah sumbangan Chavez, yaitu perubahan kekuasaan atau perubahan sosial bisa dilakukan lewat berbagai jalur, tidak harus melalui jalur Marxis klasik. Seperti yang dikatakannya sendiri oleh Chavez, “Saya adalah seorang manusia di tengah situasi khusus, dan hal terindah adalah seorang individu manusia yang hidup mampu memberi kontribusi terhadap pertumbuhan, kebangkitan kekuatan kolektif. Itulah yang sebenarnya!.”

Akan tetapi eksperimen Chavez masih akan menemui banyak hambatan, bukan saja dari musuh-musuh dalam negeri, tetapi juga dari musuh besarnya: Amerika Serikat. Khususnya pertanyaan kunci: apa yang terjadi bila misalnya Chavez terbunuh? Revolusi Bolivarian memang masih berhutang pada energi dan dedikasi seorang besar: Hugo Chavez. Tapi sampai kapan? Berbeda dengan di Kuba (di mana Chavez berguru kepada Fidel Castro), revolusinya berasal dari perjuangan bersenjata dan dikawal oleh Partai Komunis; maka apa yang terjadi di Venezuela lebih mengesankan tindakan “one man show” dengan kelompok militernya yang progresif dan konsisten. Meski demikian, eksperimen Venezuela dan Chavez-nya saat ini telah memberikan sumbangan nyata bagi pergerakan progresif rakyat sedunia, lewat karya-karya nyatanya yang tak terbantahkan, yaitu: naiknya kesejahteraan rakyat kecil di bidang kesehatan, pendidikan dan infrastruktur publik; berdaulatnya Venezuela di bidang migas dan kebijaksanaan ekonominya, khususnya dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi (10%) di luar resep ‘Konsensus Washington’; kebijakan luar negeri dan regionalnya (ALBA) yang mandiri dan anti-AS; serta telah adanya konstitusi dan perundang-undangan yang pro-rakyat. Buku ini adalah penjelas terbaik tentang apa dan bagaimana Hugo Chavez dan Revolusi Bolivarian. Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Chavez diberi umur yang panjang sampai ia bisa mensejahterakan rakyat Venezuela seluruhnya, sehingga Sosialisme abad-21nya bisa benar-benar terwujud. ***

" /> Mengenang Hugo Chavez, Presiden Pro Reforma Agraria | KPA - Konsorium Pembaruan Agraria

Mengenang Hugo Chavez, Presiden Pro Reforma Agraria

Bonnie Setiawan

(Tulisan ini karya Bonnie Setiawan, salah satu anggota Dewan Pakar KPA. Judul asli tulisan ini “Belajar dari Hugo Chavez, Membuat Revolusi untuk Mensejahterakan Rakyat” (FB, 6/3/13). Kita layak turut berduka cita atas wafatnya Hugo Chavez karena dia adalah salah satu dari sedikit contoh pemimpin dunia sekarang yang ketika berkuasa berani menjalankan reforma agraria di negaranya, Venezuela. Chavez yang terinspirasi oleh Bung Karno layak menjadi cermin bagi siapa pun yang akan maju jadi Capres RI di masa depan. Salam agraria. ***tanisa***)

Membaca buku ini, kita disadarkan bahwa Chavez senyatanya adalah seorang konstitusionalis. Di balik retorika revolusionernya, Chavez sesungguhnya adalah seorang revolusioner konstitusionalis. Dan yang hebat dari Chavez, konstitusi ini adalah pengejawantahan dari kekuatan konstituensi (nama lain dari rakyat banyak atau berbagai kelompok-kelompok kemasyarakatan yang memberikan mandat kepada sebuah pemerintah). Ia menyebutnya sebagai ‘konstitusi revolusioner” yang memberi legitimasi penuh agar kekuatan rakyat sebagai konstituen utama bisa bangkit dan kuat.

Apa yang terjadi saat ini di Venezuela, adalah unik dan spesial. Dan buku ini memberikan penjelasannya secara memadai dari orang yang paling bertanggungjawab terhadap gerak dan perkembangan politik mutakhir di Venezuela, Kol. (purn) Hugo Chavez Friar. Hugo Chavez adalah manusia unik, karena ia mematahkan banyak mitos revolusi. Sebagaimana diketahui, revolusi dalam kamus kiri adalah revolusi rakyat, di mana inisiator dan penggeraknya adalah kelas paling revolusioner dalam sistem kapitalisme, yaitu kelas buruh (Marx dan Lenin) dan kelas petani (Mao). Di luar itu adalah tabu, dan biasa disebut sebagai ‘petualang’ atau revisionis. Sejarah perebutan kekuasaan a’la Marxisme bersandar pada revolusi rakyat ini. Tanpa rakyat yang ber-revolusi, maka itu tidak bisa disebut sebagai revolusi. Apalagi istilah ‘kudeta’, adalah sesuatu yang tabu untuk dijalankan di dalam Marxisme, karena kudeta berarti petualangan borjuis kecil yang bersifat subyektivis. Karena itu misalnya gerakan G30S di tahun 1965 lewat kudeta, adalah tabu untuk dijalankan oleh PKI. PKI harus melalui revolusi rakyat untuk mencapai kekuasaan. Masih menjadi perdebatan, siapa yang memicu kudeta G30S. Akan tetapi kudeta jelas keluar dari pakem sebuah revolusi Marxis.

Beruntung bahwa Hugo Chavez bukanlah seorang Marxis. Dia juga bukan anggota Partai Komunis Venezuela atau partai Marxis lainnya, sehingga tidak bisa dihujat oleh partainya. Ia adalah anggota militer, Kolonel Parakomando (Kopassus kalau di Indonesia), yang mempunyai keberpihakan kepada rakyat kecil. Karenanya ia tidak bisa dicap revisionis atau petualang. Hugo Chavez dengan kelompok militernya, MBR 200 (Gerakan Bolivarian revolusioner) yaitu sebuah gerakan militer-sipil terkoordinir baik, yang memulai perubahan revolusioner di Venezuela. Mereka berasal dari taruna-taruna universitas militer yang lulus tahun 1970an (Chavez lulus tahun 1975), yang kemudian menjadi instruktur-instruktur militer yang menyemai ide revolusi kepada tentara-tentara muda angkatan 1980-1983. Inilah kelompok inti gerakan yang sampai sekarang menjaga keberlangsungan revolusi Bolivarian tersebut. Disamping itu, mereka mempunyai komite-komite Bolivarian, kelompok-kelompok kecil sipil yang merupakan sambungan mereka ke basis rakyat. Menurutnya, “Kami beranjak dari organisasi militer klandestin menjadi sebuah gerakan rakyat, kendati selalu ada sebuah kehadiran militer, itu adalah sebuah gerakan sipil-militer.”

Karena tidak berdasarkan kaidah kiri yang umum, maka pertama kali banyak orang tidak bisa mengidentifikasi siapa Hugo Chavez dan kelompoknya ini. Akan tetapi mereka maju terus dengan ide-idenya, khususnya ide-ide revolusioner dari Bapak Revolusi Amerika Latin, Simon Bolivar. Yang menarik, meskipun Chavez bukan seorang Marxis, ia juga bukan anti-Marxis. Ia juga bukan anti-komunis. Chavez adalah seorang kiri, yang mengambil banyak ide dari beragam orang-orang revolusioner, baik itu Komunis, Marxis, Populis, Nasionalis, dan lainnya. Katanya, “dengan Torrijos, saya menjadi seorang torrijista; dengan Velasco, saya menjadi seorang velasquista. Dan dengan Pinochet, saya menjadi seorang anti-pinochetista.” Chavez intinya adalah seorang progresif-revolusioner (meminjam istilah Bung Karno) yang terbakar hati dan jiwanya oleh penderitaan rakyat dan karenanya berkehendak berjuang merubah sistem agar bisa membawa kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat kecil. Ia lebih mirip seorang ‘eklektik’, seperti Bung Karno, yang meminjam dan memakai semua ide-ide revolusioner kiri, tetapi menjalankannya dengan gayanya sendiri.

Dan Chavez juga bukanlah sekedar petualang revolusioner, tetapi sungguh-sungguh menjalankan perebutan kekuasaan secara sistematis dan terencana. Pertama, lewat kudeta yang gagal di tahun 1992. Kedua, barulah mengikuti Pemilu yang dimenangkannya secara sukses di tahun 1998 lewat 56% suara. Keunikan Chavez adalah membalikkan proses, merebut kekuasaan dulu secara konstitusional, baru menjalankan revolusi. Alih-alih Chavez membangun kekuatan buruh dan tani, Chavez justru menjalankan proyek Majelis Konstitusi, sebuah kendaraan yang akan dipakainya untuk di kemudian hari menjalankan proses transisi politik ke tahap revolusi. Majelis Konstituante ini adalah alat untuk mengorganisir gerakan kerakyatan. Agendanya adalah meningkatkan standar kehidupan rakyat, mempertahankan kedaulatan nasional, dan memperkuat kekuasaan yang setara dengannya. Yang menarik ide ini berasal dari sebuah survei yang dijalankan terlebih dahulu terhadap sekitar 100.000 orang antara tahun 1996-1997 yang menyimpulkan bahwa “sebagian besar rakyat tidak menginginkan sebuah gerakan kekerasan, namun mereka lebih mengharapkan agar kami mengorganisir sebuah gerakan politik yang terstruktur untuk mengambil alih negeri melalui jalur yang tepat.” Inilah kiranya yang unik dari revolusi Bolivarian a’la Chavez, yaitu revolusi konstitusionalis, percaya kepada perebutan kekuasaan secara konstitusional, damai dan sesuai ‘rule of law’; sementara di lain pihak konsisten setia kepada amanat penderitaan rakyat sampai akhir (slogannya yang terakhir adalah “Sosialisme atau Mati”), serta merubah konstitusi dan Undang-undang yang konsisten dengan perjuangan tersebut.

Apa yang terjadi di Venezuela sekarang adalah sebuah proyek eksperimentasi bagi mewujudkan sebuah “Sosialisme Abad 21”, demikianlah yang dikatakannya setelah memenangkan Pemilu terakhirnya, Desember 2006. Apa yang menarik dari Chavez adalah sikapnya yang terbuka, tidak sektarian, tidak sempit, setia kepada rakyat kecil dan percaya kepada revolusi damai dan demokratis. Bagi banyak kalangan Marxis, ia akan tetap di cap sebagai revolusi Borjuis kecil. Tetapi mungkin itulah sumbangan Chavez, yaitu perubahan kekuasaan atau perubahan sosial bisa dilakukan lewat berbagai jalur, tidak harus melalui jalur Marxis klasik. Seperti yang dikatakannya sendiri oleh Chavez, “Saya adalah seorang manusia di tengah situasi khusus, dan hal terindah adalah seorang individu manusia yang hidup mampu memberi kontribusi terhadap pertumbuhan, kebangkitan kekuatan kolektif. Itulah yang sebenarnya!.”

Akan tetapi eksperimen Chavez masih akan menemui banyak hambatan, bukan saja dari musuh-musuh dalam negeri, tetapi juga dari musuh besarnya: Amerika Serikat. Khususnya pertanyaan kunci: apa yang terjadi bila misalnya Chavez terbunuh? Revolusi Bolivarian memang masih berhutang pada energi dan dedikasi seorang besar: Hugo Chavez. Tapi sampai kapan? Berbeda dengan di Kuba (di mana Chavez berguru kepada Fidel Castro), revolusinya berasal dari perjuangan bersenjata dan dikawal oleh Partai Komunis; maka apa yang terjadi di Venezuela lebih mengesankan tindakan “one man show” dengan kelompok militernya yang progresif dan konsisten. Meski demikian, eksperimen Venezuela dan Chavez-nya saat ini telah memberikan sumbangan nyata bagi pergerakan progresif rakyat sedunia, lewat karya-karya nyatanya yang tak terbantahkan, yaitu: naiknya kesejahteraan rakyat kecil di bidang kesehatan, pendidikan dan infrastruktur publik; berdaulatnya Venezuela di bidang migas dan kebijaksanaan ekonominya, khususnya dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi (10%) di luar resep ‘Konsensus Washington’; kebijakan luar negeri dan regionalnya (ALBA) yang mandiri dan anti-AS; serta telah adanya konstitusi dan perundang-undangan yang pro-rakyat. Buku ini adalah penjelas terbaik tentang apa dan bagaimana Hugo Chavez dan Revolusi Bolivarian. Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Chavez diberi umur yang panjang sampai ia bisa mensejahterakan rakyat Venezuela seluruhnya, sehingga Sosialisme abad-21nya bisa benar-benar terwujud. ***

Opini Lainnya..

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934