DAMARA

Desa Maju Reforma Agraria

1. Pengertian

Desa/kampung yang secara sosial, ekonomi, budaya dan politik bekerja dalam kaidah-kaidah pelaksanaan reforma agraria. Desa Maju Reforma Agraria (DAMARA) merupakan hasil dari berabad-abad perjuangan melawan feodalisme, kolonialisme yang masih menjadi semangat bagi banyak masyarakat di Indonesia dan di dunia. Sejak tahun 1994, KPA memiliki tekad untuk melaksanakan reformasi agraria sejati di kepulauan terbesar di dunia. Reformasi agraria ini dilakukan dengan mendistribusikan tanah untuk petani penggarap yang ingin mencapai pembangunan pedesaan berkelanjutan. Di balik prestasi ini, kemauan reformasi agraria sejati adalah mengubah keseimbangan kekuasaan di masyarakat dan menghentikan sistem masa lalu dan yang sebenarnya mendominasi. Transformasi sosial ini akan membuat petani, nelayan rakyat, mahasiswa, buruh, masyarakat adat sebagai pusat pembangunan berkelanjutan dan mencapai kedaulatan moral mereka yang sah.

Reforma agraria atas inisiatif rakyat (ARBL) menjadi landasan utama Gerakan DaMaRA di tingkatan akar rumput (masa tani), anggota KPA. Bersama organisasi petani, komunitas desa dan para pihak bersama-sama di tingkat desa/kampung memastikan syarat-syarat terwujudnya Damara (RA) terpenuhi.

Mengajak organisasi petani bersama-sama melakukan proses pemetaan sosial-ekonomi-budaya, pemetaan wilayah, merancang rencana tata guna lahan/desa, tata produksi hingga konsumsi lokal, serta mendorong beragam inisiatif lokal dari bawah secara kolektif.

Dalam konteks kerja-kerja advokasi di tingkatan basis, organisasi tani dan komunitas desa diajak untuk memahami sekaligus dapat menggunakan peluang kebijakan dan hukum yang tersedia dalam kerangka pelaksanaan Reforma Agraria. Sejalan dengan itu, proses-proses peningkatan kapasitas organisasi/petani (laki-laki, perempuan, generasi muda) dijalankan.

2. Syarat Dasar

Sistem agraria yang berkeadilan (fair agrarian system), pemilikan, penggunaan dan pengelolaan tanah yang berkelanjutan (sustainable land ownership and management); dan jaminan hak atas tanah (secured land rights).

3. Tujuan dan Cita-cita

Tujuan:

Adanya perubahan tata kuasa, tata guna, tata produksi, tata distribusi dan konsumsi petani/RTP atas sumber agraria di tingkat desa/kampung (territorial-based).

Makin kuatnya kontrol, akses dan manajemen produksi petani serta komunitas desa atas sumber-sumber agraria dan desanya, sekaligus makin terjaminnya keberlanjutan hidup petani terjadinya;

Cita-cita: Transformasi sosial di pedesaan berbasiskan gerakan Reforma agraria

4. Prinsip

  • Keadilan (agraria, ekonomi, gender, ekologis)
  • Solidaritas
  • Keswadayaan
  • Kebersamaan (kolektif, gotong-royong)
  • Partisipasi
  • Kedaulatan
  • Demokrasi
  • Keterbukaan
  • Kemerdekaan
  • Keberlanjutan

5. Tahapan Menuju Desa Maju Reforma Agraria

A. Tata Kuasa

  • Land reform (re-distribusi): penataan ulang struktur penguasaan dan pemilikkan atas tanah yang lebih berkeadilan dan mensejahterakan.
  • Proses: Penguatan hak dan jaminan pemilikan secara sendiri-sendiri atau pun bersama (kolektif/komunal).
  • Indikator : 1) Adanya perubahan atau perbaikan relasi kuasa manusia/kelompok dengan tanah, relasi antar manusia/kelompok dalam hubungannya atas tanah; 2) Diakui, diperkuat dan dikukuhkan hak pemilikan masyarakat penggarap melalui hak individual atau hak kolektif (komunal), atau kombinasi individual-kolektif.

B. Tata Guna Tanah

  • Tata guna tanah: peruntukkan dan pemanfaatan tanah yang mencerminkan kebutuhan, corak kebudayaan dan identitas masyarakatnya.
  • Proses: Memastikan penggunaan, peruntukkan, dan pemanfaatan tanah melalui kesepakatan bersama (partisipatif dan mufakat) diantara anggota serikat/komunitas.
  • Indikator: optimalisasi penggunaan tanah secara berkelanjutan; peruntukkan dan penggunaan utama tanah sebagai: alat produksi (pemenuhan pangan, papan, sandang – sawah/ladang/kebun/ternak); spiritual/peribadatan; kebudayaan; keberlanjutan alam; sekolah; olah raga; fasum-fasos lainnya – yang secara mencerminkan penghormatan dan pengamalkan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat (kearifan lokal, sesuai prinsip dasar RA)

C. Tata Produksi

Corak produksi dan konsumsi berbasiskan pada nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, kesetaraan, gotong royong/usaha ekonomi bersama/koletif (pertanian integratif, koperasi, bank petani, BumDes, BumDes Adat).

Proses: Membangun corak penataan produksi pertanian yang lebih baik, berbasiskan solidaritas, semangat kolektif dengan menciptakan pengusahaan bersama; menciptakan pusat-pusat produksi baru secara kolektif di lapangan agraria.

Indikator: perubahan/perbaikan corak produksi dan konsumsi yang dikembangkan dan dipraktekkan secara bergenerasi; kegiatan on-farm dan off-farm berkembang.

D. Tata Distribusi dan Konsumsi

  • Petani secara kolektif dan mandiri dapat mengontrol pemasaran hasil produksi mereka, sekaligus menciptakan jaringan pasar sendiri melalui pendidikan dan pembentukan koperasi (kerakyatan) untuk simpan – pinjam, produksi, distribusi, kesehatan, dan pendidikan
  • Pengusahaan bersama yang dilakukan petani tersebut, diarahkan bagi pemenuhan kebutuhan dasar (sehari-hari) masyarakat/komunitas secara mandiri (pangan lokal, non-impor/dari luar komunitas), termasuk upaya mencapai surplus produks
  • Memutus rantai pasok dengan cara menjual langsung ke konsumen, membanguna jaringan produsen – konsumen untuk menciptakan pasar sendiri (solidaritas) – jaringan produksi.
  • Memberikan edukasi (konsumen) tentang perjuangan petani dan produk lokal

 

 

 

 

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934