Hitung Mundur Menuju Global Land Forum Secara Resmi Diluncurkan

Jakarta (kpa.or.id) – Panitia Nasional Global Land Forum 2018 secara resmi meluncurkan rangakaian menuju GLF 2018 yang akan diselenggarakan September nanti di Bandung, Jum’at, (3/8)

Acara yang berlangsung di Hotel Akmani, Menteng, Jakarta Pusat tersebut ditandai dengan pemukulan gentongan secara bersama-sama oleh seluruh perwakilan NOC yang terdiri dari 15 organisasi masyarakat sipil dan pemerintah Republik Indonesia.

Lima belas organisasi tersebut diantaranya, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP), Sayogyo Institute (Sains), Serikat Tani Indramayu (STI), Serikat Petani Pasundan (SPP), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Aliansi Petani Indonesia (API), Solidaritas Perempuan (SP), Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Yayasan Pusaka, Indonesia Human Rights Commite for Social Justice, HuMa, dan Epistema Institute.

Sementara dari pemerintah diwakili oleh Kantor Staf Presiden (KSP), Kementrian ATR/BPN, Kementrian LHK, dan Komnas HAM.

Acara yang berlangsung selama 4 jam tersebut juga diisi diskusi mengenai harapan di GLF 2018 dan perkembangan implementasi reforma agraria di Indonesia. Diantaranya menghadirkan Yanuar Nugroho (Kantor Staf Presiden), Desmond. J. Mahesa (Komisi III DPR RI), Maria. SW. Soemardjono, Reni Windiyawati (Kementrian ATR/BPN), Bambang Suprianto (KLHK), dan Dewi Kartika (KPA).

Pemerintah menyambut baik kegiatan GLF 2018, momentum konferensi Asia-Afrika dapat diulang kembali dalam sejarah jika dulu terkait kemerdekaan, Konferensi yang diselenggarakan di tempat yang sama pada tahun 2018 nantinya merupakan hal terkait, namun dengan konteks berbeda terkait dengan hak atas tanah,” ujar Yanuar Nugroho.

Di sisi lain, Desmon menekankan bagaimana GLF tidak hanya menjadi acara seremonial saja. Namun harus dipandang sebagai ajang untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada di pemerintah selama ini, terutama terkait impelementasi reforma agraria. Ini yang diinginkan rakyat,” tegasnya.

GLF ini momen belajar bagaimana menyelesaikan konflik agraria di Indonesia. Keberpihakan Presiden dalam hal penyelesaian konflik agraria juga harusnya berpihak pada rakyat dengan bantuan dari KSP dan Kementrian/Lembaga terkait,’ tambahnya.

Sementara, Maria Soemardjono berharap GLF bisa menjadi mementum agar Negara kembali bekerja bersama untuk kesejahteraan rakyat berdasarkan pasal 33.

Seharusnya justice/keadilan dahulu baru kemudian peace/damai, karena tidak ada damai jika tidak adil,” Maria menambahkan.

Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini diakhiri epilog dari Bapak Gunawan Wiradi. Beliau menekankan pentingnya konsistensi untuk perjuangan reforma agraria di Indonesia.

GLF 2018 merupakan kesempatan saling belajar dan membangun solidaritas dunia untuk membentuk reforma agraria yang asli/genuine,” ujar beliau.

Jangan berubah, yang berubah bukan hanya alam atau manusia tetapi ide pun juga berubah; walaupun gagasan mengalami modifikasi tetapi intinya harus tetap sama. GLF adalah momentum untuk saling belajar dan kembali kepada keaslian reforma agrarian,” tutupnya.

GLF 2018, Momentum Global Perjuangan Hak Atas Tanah dan Reforma Agraria

Global Land Forum akan berlangsung kurang dari bulan lagi. GLF akan menjadi forum bagi seluruh komunitas global terutama Indonesia untuk bersama-sama menggagas solusi hak atas tanah. Saling menginspirasi untuk melepaskan diri dari beragam praktek perampasan tanah yang masih banyak terjadi dewasa ini.

Melaui forum ini, setiap komunitas global akan bertukar gagasan serta pengalaman. Membakar semangat dan kekuatan moral bagi mereka yang masih bergelut dalam memperjuangkan tanah air. Menekankan pentingnya kerjasama demi terciptanya pemahaman bersama bagi keadilan dan perdamaian.

GLF ingin menghadirkan semangat kerjasama setiap komunitas untuk melahirkan solusi bersama, mengadirkan pengelolaan tanah berbasis masyarakat (People Land-Centered Governance).

Seperti dijelaskan Iwan Nurdin, bahwa GLF 2018 adalah forum tukar-menukar gagasan paling akbar di dunia yang dapat menjadi inspirasi dan semangat baru bagi Negara bahwa sangat penting untuk memperjuangkan isu-isu agraria atau hak atas tanah, khususnya yang terjadi di pedesaan untuk komunitas global”.

Sama halnya, Dewi Kartika menuturkan GLF 2018 merupakan momentum penting yang dapat mendorong kembali semangat kemanusiaan dan realisasi hak atas tanah, khususnya bagi para petani, masyarakat adat, perempuan serta masyarakat pedesaan.

DI GLF nanti, kita mengharapkan lahirnya deklarasi yang mendorong reforma agraria dan penyelesaian konflik di Indonesia dan global, yakni Deklarasi Bandung,” tambah Dewi. (BW)

 

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934