KPA Inisaisi Pembentukan Persatuan Petani Bolobia

Sigi (kpa.or.id) – Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menginisiasi pembentukan Persatuan Petani Bolobia (PPB), (28/1). Bertembat di Desa Bolobia, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pendirian tersebut ditandai dengan deklarasi antara petani bersama perwakilan KPA, Rudi Casrudi, Noval Apek Saputra, dan Igal Saputra.

Sebelumnya, Rudi dan Noval melakukan diskusi bersama warga guna mengidentifikasi persoalan yang tengah mendera mereka dan menyusun agenda perjuangan ke depan. Saat ini, warga Desa Bolobia mengalami permasalahan tumpang tindih wilayah desa dengan hutan lindung.

Secara geografis, Desa Bolobia berada di ketinggian karena terletak di wilayah pegunungan yang berjarak setengah jam dari Kota Palu. Dengan topografi seperti itu, tak ayal Desa Bolobia memiliki potensi pertanian yang cukup tinggi karena tingkat kesuburan tanah yang sangat baik, utamanya kacang merah dan kemiri.

Dua komoditas ini sejak lama telah menjadi tumpuan ekonomi warga desa. Dalam mengolah pertanian, warga desa memiliki sistem kerja kolektif yang disebut nosiolopale (red: bergandengan tangan). Budaya tersebut merupakan tradisi yang telah dipraktekkan secara turun temurun.

Cara kerja sistem ini dengan membentuk kelompok kerja di setiap sekup (red: wilayah desa yang dibagi beberapa bagian) desa. Ada tiga kelompok nosiolopale di mana masing-masing kelompok terdiri dari 30 orang atau lebih yang memiliki jadwal kerja di lahan-lahan kelompok yang telah dibentuk tadi.

Tahapan kerja yang dilakukan dimulai dengan persiapan lahan (red: membabat rumput); menanam bibit, pemupukan dan panen. Semua dikerjakan secara bersama-sama tanpa upah. Pemilik lahan hanya menyediakan makanan dan minuman. Pada hari Minggu, semua aktivitas pertanian libur karena sebagian besar warga pergi ke gereja.

Organisasi dan Wadah Perjuangan

Selain persoalan tata batas dengan hutan lindung, terdapat beberapa persoalan lain yang dialami, misal kurangnya fasilitas umum seperti jaringan listrik, air bersih dan jalan atau akses menuju desa. Meski dekat dari Kota Palu, tidak dipungkiri Desa Bolobia merupakan salah satu desa tertinggal di Sulawesi Tengah.

Kenyataan-kenyataan tersebut disampaikan saat pertemuan dengan KPA, yang juga dihadiri kepala desa, pemangku adat dan kelompok gereja.

Meski begitu, warga tidak patah arang untuk terus membangun desa mereka. Berbagai upaya dan inisiatif terus digalakkan, salah satunya melakukan pemetaan partisipatif secara swadaya. Ke depan, mereka juga ingin belajar cara pembuatan pupuk organik dan membuat produk turunan kacang merah yang sangat berlimpah.

Guna menuju itu, KPA mengajak warga membentuk organisasi sebagai wadah perjuangan dan tempat bertukar pikiran sesama warga desa. Selain itu, adanya organisasi akan membuat rencana-rencana ke depan berjalan lebih sistematis.

“Peranan organisasi tani bukan hanya berbicara kerja-kerja bersama di kebun-kebun ataupun ladang, tetapi organisasi memiliki peranan di dalam pemerintahan Desa,” Rudi menyampaikan.

Saat ini telah terbentuk struktur kepengurusan PPB, diantaranya Naftalin sebagai ketua, George sebagai sekretaris, Rosdermawati (bendahara) dan Veransah selaku Humas.

Ke depan, kerja-kerja organisasi diprioritaskan untuk penyelesaian tumpang tindih wilayah desa dengan hutan lindung. Termasuk melakukan pendataan lahan, pelatihan-pelatihan teknis pertanian dan mengembangkan sistem pertanian organik dengan membentuk demplot-demplot. (AR)

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934