Merawat Nosialapale, Sistem Pertanian Kolektif Lokal

admin

Sigi (kpa.or.id) - Petani Bolobia harus terus merawat budaya Nosialapale sebagai budaya gotong royong dalam sistem pertanian masyarakat Desa Bolobia.. Hal ini ditegaskan perwakilan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Rudi Casrudi dalam pendidikan Desa Maju Reforma Agraria yang diselenggarakan Persatuan Petani Bolobia (PPB) di Desa Bolobia, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada tanggal 24 – 27 Juli 2019.

Saran saya, Nosialapale ini jangan sampai hilang, karena merupakan jantung pertaniannya masyarakat di sini. Jika budaya ini hilang, maka runtuhlah sistem pertanian lokal masyarakat Bolobia,” tegas Rudi.

Rudi melanjutkan, jika dilihat dari hasil produksi unggulan yang ada di Bolobia, maka ke depan masyarakat harus membuat produk turunan kacang merah dan kemiri untuk meningkatkan produktivitas petani.

Pendidikan selama tiga hari ini juga sekaligus menyampaikan hasil pendataan potensi sosial – ekonomi desa yang dilakukan KPA bersama PPB beberapa waktu lalu.

Dari pendataan tersebut, ditemukan beberapa produk unggulan pertanian yang bisa dikembangkan oleh petani, yakni kacang merah dan kemiri. Hitungannya, lahan yang bisa ditanami kacang merah seluas 145 hektar dengan rata-rata panen per hektar sebanyak satu ton. Kacang merah kering bisa dijual ke pasar dengan harga Rp. 15.000,- untuk satu kilonya.

Secara geografis, Desa Bolobia berada di ketinggian dengan luasan 613,60 hektar. Sekitar 359,79 hektar masih berstatus sebagai kawasan hutan lindung. Sementara, sisanya seluas 363,87 hektar diusulkan sebagai Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA).

Di sisi lain, Koordinator KPA Sulawesi Tengah, Noval Apek Saputra pada kesempatan tersebut menyampaikan perkembangan advokasi penyelesaian konflik LPRA untuk Provinsi Sulawesi Tengah.

Saat ini kita masih menghadapi kemandegan proses penyelesaian konflik di Kementrian LHK, karena mereka belum bisa melepaskan kawasan hutan lindung tersebut sebagai objek reforma agraria,” jelas Noval.

Noval membandingkan dengan perkembangan pelaksanaan reforma agraria di Kabupaten Sigi. Ia mengatakan sudah ada kemajuan, karena yang menjadi pengaju ialah Bupati Sigi sendiri.

Hal ini bisa terlihat dari proses pemetaan yang sudah berjalan di hampir semua desa. Bupati terlibat langsung mendorong prosesnya.

Di hari berikutnya, Rudi mengajak peserta pelatihan mengenal lebih jauh mengenai Damara. Rudi menekankan empat poin penting tahapan Damara, yakni tata kuasa, tata guna lahan, tata produksi dan tata distribusi-konsumsi.

Empat tahapan ini menjadi pijakan pembangunan pedesaan berbasis reforma agraria,” tukas Rudi.

Selain itu, ia juga mengajak peserta untuk mulai memikirkan bagaimana memanfaatkan kekayaan alam sekitar desa untuk bercocok tanam. Misalnya memanfaatkan nasi untuk membuat Mikro Organisme Lokal (MOL). Bisa juga memanfaatkan rebung bambu sebagai nutrisi tambahan untuk fase vegetatif tanaman.

Di akhir kegiatan, KPA bersama PBB menyepakati beberapa hal sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, diantaranya membuat demplot kacang merah seluas satu hektar, membuat produk kemasan kacang merah dan kemiri, serta melakukan pemetaan persil. Poin terakhir ini nantinya akan dikawal langsung oleh KPA Sulteng.

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934