Membangun Model Usaha Ekonomi Solidaritas Petani-Buruh

admin

Jakarta (kpa.or.id) - Inisiatif ekonomi solidaritas antara petani-buruh melalui Gerakan Ekonomi Solidaritas Lumbung Agraria (GESLA) semakin menemukan momentumnya. Satu-persatu pijakan ke arah kemandirian ekonomi melalui kerjasama pangan telah berhasil dirajut. Salah satunya mematangkan model usaha ekonomi dan rencana pembangunan pabrik penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU).

Rencana tersebut dibahas secara utuh melalui pertemuan dan diskusi terbatas antara KPA, Konfederasi KASBI, KPBI, KRKP dan STI dengan tema “Dialog Petani-Buruh: Model Usaha Tani, Ekonomi Solidaritas dan Kedaulatan Pangan Gerakan Reforma Agraria”, Jum’at, 5 Maret 2021 di Jakarta.

GESLA adalah bentuk konkrit solidaritas petani-buruh dalam perjuangan di lapangan ekonomi. Diawali dari respon darurat atas dampak Covid-19 yang telah melahirkan berbagai krisis yang mencekik kaum buruh dan tani. Gerakan ini pelan-pelan semakin berkembang dan meluas. Ke depan, inisiatif ini tentu diharapkan mampu melampaui krisis Covid-19, menjadi kerja nyata atas apa yang telah dicita-citakan selama ini. Terbangunnya sistem ekonomi kerakyatan yang berbasis kedaulatan pangan dan gotong-royong.

Ini adalah fase yang penting, agar kita bisa memastikan seberapa siap untuk melangkah ke depan, mewujudkan yang kita cita-citakan sebagai ekonomi solidaritas berbasiskan kedaulatan pangan, yakni membangun pabrik penggilingan padi,” ujar Sekjend KPA, Dewi Kartika.

Harapannya, dalam diskusi ini akan lebih detail dibicarakan bagaimana pengorganisasian GESLA dan RMU ini ke depan, sehingga langka-langkah serius dapat dijalankan,” lanjutnya.

Pabrik penggilingan ini akan dibangun di salah satu basis STI di Kabupaten Indramayu, salah satu lokasi yang telah mengembangkan inisiatif Desa Maju Reforma Agraria (Damara). Ke depan, STI diharapkan mampu memasok kebutuhan pangan kaum buruh, utamanya beras melalui ekonomi solidaritas ini.

Rencana pembangunan pabrik ini disambut baik oleh Ketua STI, Abdul Rojak. Keberadaan RMU ini otomatis akan menyelematkan harga gabah dari petani, terutama anggota STI yang selama ini masih bergantung pada mekanisme pasar,” ungkapnya.

Rojak berkeyakinan STI bisa mendorong para anggota mereka untuk terlibat penuh dalam inisiatif gerakan ini karna akan berdampak positif bagi usaha produksi para petani.

Sementara, Sekjend Konfederasi KASBI juga menyambut postif kerjasama tersebut. Ia beranggapan gerakan ini sangat luar biasa dan patut didukung secara penuh oleh semua elemen gerakan, terutama buruh-tani.

Ini bukan hanya rencana bisnis, tapi juga berbicara bagaimana membangun kekuatan organisasi rakyat. Maka dari itu, rencana ini akan menjadi semangat baru bagi kawan-kawan di gerakan buruh,” jelas Sunar.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Sekjend KPBI, Damar Panca. Soal beras menjadi potensi yang peluangnya besar. Kawan-kawan juga sudah survey secara langsung. Tahap awal, ada basis-basis buruh yang secara persebaran wilayah tidak berjauhan dengan RMU yang akan dibangun di Indramayu. Artinya, itu menjangkau semua lapisan basis-basis buruh,” terang Panca.

Pasca pertemuan ini diharapkan rencana-rencana yang sudah dibicarakan dapat segera terrealisasi, baik secara teknis pembangunan RMU ataupun kesiapan STI sebagai produsen dan kesiapan KASBI dan KPBI sebagai konsumen. Sehingga solidaritas antara gerakan reforma agraria dan gerakan buruh dapat semakin kuat.

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934