Agrarian Reform Media Awards II, Terima Kasih Petani untuk Insan Jurnalis

Jakarta (kpa.or.id) - Agrarian Reform Media Awards II yang diselenggarakan KPA bersama Dewan Pers dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) telah menuntaskan seluruh prosesnya dengan ditandai penyerahan penghargaan bagi para pemenang, Jum’at, (3/8). 
Berlangsung di sela-sela “Peluncuran Menuju Global Land Forum 2018” di Hotel Akmani, Menteng, Jakarta Pusat, Anegerah Agrarian
Reform Media Awards II ini diakhiri penyerahan Caping secara simbolis oleh petani kepada masing-masing pemenang.
 
Penyerahan simbolis tersebut dilakukan Abdul Rojak, Dewan Tani Serikat Tani Indramayu (STI) sebagai ucapan terima kasih petani kepada insan jurnalis atas kontribusi mereka menyuarakan nasib kaum tani dan perjuangan reforma agraria.
 
Ajang ini merupakan yang kedua setelah pertama kali diselenggarakan pada tahun 2016. Agrarian Reform Media Awards merupakan inisiasi KPA sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap insan jurnalis dan media pers yang mempunyai kepedulian terhadap nasib kaum tani dan agenda pembaruan agraria melalui karya-karya jurnalistik mereka”, Ucap Dewi Kartika, Sekjend KPA.
 
Dengan tema “Bersatu untuk Hak Atas Tanah, Perdamaian dan Keadilan”. Ajang ini mempunyai empat tema, diantaranya, Aksi Efektif Melawan Perampasan Tanah, Reforma Agraria, Kedaulatan Pangan, dan Hak Perempuan atas Tanah.Tema tersebut diambil dari tema Global Land Forum 2018 yang akan diselenggarakan di Bandung, September tahun ini. 
 
Agrarian Reform Media Awards tahun ini temanya mengambil tema GLF 2018 karena merupakan salah satu rangkaian menuju perhelatan GLF yang akan diselenggarakan bulan September nanti di Bandung,” tambah Dewi.
 
Kegiatan ini dimulai dengan penerimaan karya jurnalistik setiap peserta yang dari 10 Mei – 10 Juli 2018. Selama waktu tersebut, tercatat 35 jurnalis ikut berpatisipasi. Mereka terdiri dari 19 jurnalis Nasional dan 16 jurnalis lokal. Sedangkan karya jurnalistik yang diterima berjumlah 46 dikarenakan setiap peserta idperbolehkan mengirimkan maksimal 3 karya jurnalistik mereka. Sama seperti sebelumnya, ajang kali ini dibagi menjadi dua kategori, yakni kategori teks dan audio visual.
 
Dari seluruh karya peserta yang diterima, Dewan Juri yang terdiri dari Imam Wahyudi (Dewan Pers), Gafar Yudtadi (IJTI), Abdul Manan (AJI), dan Dewi Kartika (KPA) akhirnya menetapkan tiga pemenang di masing-masing kategori.
 
Pemenang pertama untuk kategori teks, diraih oleh Dionisius Reynaldo dari Kompas.id dengan judul karya “Hinting Pali, Solusi Adat Petani”. Pemenang kedua oleh Ika Ningtyas dari Ekuatorial.com dengan judl karya “Nasib Buram Petani Bongkaran”. Terakhir, Kresna Sugianto dari Tirto.id dengan judul karya “Nasib Warga Kulon Progo yang Belum dan Sudah Digusur Proyek Bandara menyabet juara III.
Sementara tim Berkas Kompas dari Kompas TV kembali menjadi pemenang pertama untuk kategori audio visual dengan judul karya “Bandara Kertajati Gusur Petani?. Pemenang kedua diraih Rully Kurniawan dari CNN TV dengan “Indonesia Darurat Generasi Petani” dan pemenang ketiga jatuh kepada Tim Indonesiaku Trans7 dengan judul “Desa Mulawarman, Kami yang Bertahan di Jerat Tambang.
 
Caping dan Terima Kasih Petani untuk Insan Jurnalis
 
Menyuarakan pembaruan agraria dan nasib kaum tani bukanlah persoalan mudah. Selain tidak populer, bergelut di isu tersebut memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan para jurnalis.
 
Hal tersebut diakui salah satu pemenang untuk kategori teks, Ika Ningtyas. Pawarta yang bertugas di Malang, Jawa Timur tersebut mengakui bagaimana kecilnya minat jurnalis terhadap isu reforma agraria. Ditambah tingginya resiko yang dihadapi.
Saya berharap, ke depan semakin banyak perhargaan-penghargaan seperti ini,” ujar Ika.
“Meliput berita reforma agraria adalah tantangan tersendiri karna kompleksitas yang dihadapi, ditambah reforma agraria bukanlah isu yang populer di mata pembaca”. 
 
Selain itu, resiko yang tinggi dalam meliput reforma agraria seperti konflik tanah dan penggusuran menjadi catatan tersendiri. Mudah-mudah dengan semakin banyaknya apresiasi seperti ini menjadi pelecut bagi kami, para wartawan,” tutupnya.
Penyerahan penghargaan ini diakhiri testimoni yang disampaikan Abdul Rojak, sekaligus penyerahan caping kepada masing-masing pemenang.
 
Dulu kami di STI menganggap wartawan sama sekali tidak peduli dengan nasib kami, kaum tani”, Rojak mengawali .
Pasalnya, waktu kami konflik dengan Perhutani beberapa tahun silam, tidak ada wartawan yang mau memuat aspirasi kami dalam berita mereka. Padahal kami sudah berapi-api melakukan orasi waktu itu”, tuturnya.
Tapi ternyata, masih banyak teman-teman wartawan yang peduli dengan nasib kami dan menyuarakan suara kaum tani. Rekan-rekan yang berdiri di sini merupakan bukti keberpihakan tersebut,” tambahnya.
 
Kami kaum tani sangat berterima kasih atas dukungan kawan-kawan wartawan, yang mau menyuarakan nasib kami meski dengan resiko yang sangat tinggi. Mudah-mudahan ke depan, solidaritas diantara kaum tani dan para wartawan semakin solid untuk  keadilan agraria di Indonesia”, Rojak mengakhiri. (BW)
 

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934