Organisasi Tani Hitambara Dirikan Credit Union

Benni Wijaya

Banjarnegara (kpa.or.id) – Himpunan Masyarakat Tani Banjarnegara (Hitambara) satu langkah menapakan kaki menuju Desa Maju Reforma Agraria (Damara). Hal ini ditandai dengan berdirinya Credit Union (CU) HItambara pada tanggal 1 Maret 2019.

Pendirian tersebut digagas bersama Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), diawali pendidikan koperasi selama tiga hari dari 27 Februari hingga 1 Maret 2019 di Desa Punggelan, Kecataman Banjarnegara, Jawa Tengah. Desa Punggelan merupakan salah satu dari 462 Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) yang telah diusulkan KPA kepada pemerintah.

Dalam pendidikan selama tiga hari tersebut, anggota organisasi dipandu Rudi Casrudi, Departemen Penguatan Organisasi KPA, Purwanto, Kordinator KPA Jawa Tengah dan Jaka Wadira dari CU Pewartaku. Dalam kesempatan ini, anggota organisasi ditekankan akan pentingnya peran penguatan organisasi, salah satunya keberadaan lembaga keuangan atau koperasi dalam gerakan reforma agraria.

CU Pewartaku sendiri merupakan lembaga keuangan salah satu Organisasi Tani Lokal (OTL) Persatuan Petani Aryo Blitar (PPAB) Jawa Timur dengan tujuan membangun kemandirian anggota dalam pembiayaan produksi-distribusi. Saat ini, CU Pawartaku telah berhasil mengelola omset senilai 3 milyar rupiah.

Credit Union dan Kemandirian Ekonomi

Gerakan Credit Union di tingkat tapak merupakan suatu usaha meningkatkan taraf hidup anggota organisasi melalui bangunan ekonomi yang lebih mandiri berbasis gotong royong. Dalam pelaksanaannya, CU berada dan dikontrol langsung oleh organisasi induk.

Dalam pemaparannya, Jaka menjelaskan CU secara harfiah merupakan persatuan kredit yang ditujukan untuk saling menolong, meningkatkan tarap hidup anggota, membangun kerjasama dengan memberikan pertolongan dalam bentuk pinjaman kepada anggota.

“CU merupakan gabungan antara koperasi dan perbankan”, jelas Jaka.

“Untuk menjalankannya, dibutuhkan bukan hanya manajemen yang baik akan tetapi juga kemampuan setiap pengurus dalam pembukuan kas secara sederhana”, Jaka menambahkan. 

Rudi sendiri menjelaskan, poin penting dalam pembentukan CU adalah kerjasama, dan prinsip CU merupakan suatu inisiatif yang langsung berada di bawah organisasi. Sehingga CU ini harus dikontrol secara langsung oleh pengurus Hitambara.

“Jika terbentuk, harus jelas hubungan antara organisasi dengan CU. Anggota organisasi merupakan prioritas utama yang harus dilayani sehingga di masa depan hubungan antara organisasi dengan CU tersebut saling melengkapi dalam upaya membesarkan gerakan tani”, sambung Rudi.

Hari kedua, peserta diajak melakukan simulasi materi hari pertama, yakni pembukuan dan catatan tentang kredit, bunga, mekanisme simpanan serta pencairan pinjaman. Para anggota organisasi disarankan membuat program simpan pinjam terlebih dahulu diawal pembentukan CU.

 “Seiring dengan perkembangannya, CU bisa dikembangkan dengan program yang lebih banyak mengikuti keinginan para anggota. Kita coba dulu dilingkaran anggota organisasi”, terang Jaka. 

“Jika ada kesulitan, CU pewartaku siap melakukan pendampingan dan berdiskusi dengan para anggota,” tambahnya.

Ia juga menawarkan program magang selama beberapa waktu di CU Pewartaku bagi mereka yang tertarik untuk menambah kapasitas.

CU Pewartaku saat ini telah menjalankan beberapa program dalam upaya mendukung kerja-kerja anggota meliputi; 1) perbankan dalam bentuk pinjaman pendidikan, pensiun, kegiatan keagamaan, kendaraan, perumahan, lahan, deposito, pernikahan, ibu melahirkan dan kebutuhan harian; 2) asuransi untuk orang sakit, meninggal hingga santunan melahirkan; dan 3) koperasi dalam bentuk simpanan wajib serta simpanan pokok.

Jalan Menuju Desa Maju Reforma Agraria

Gerakan reforma agraria dalam artian yang lebih luas tidak hanya berbicara perjuangan tani dalam merebut kembali tanah mereka. Namun, gerakan reforma agraria dalam narasi yang lebih besar bertujuan membangun kedaulatan petani atas willayah (red: desa) dan pondasi ekonomi secara mandiri dan gotong royong. Situasi ini diharapkan akan berdampak secara sosial-ekonomi dan bahkan politik.

Secara politis, desa merupakan organisasi kekuasaan yang seharusnya mampu mengatur kekuasaannya sendiri. Sehingga disadari, kekuatan gerakan reforma agraria haruslah belandaskan gerakan teritori atau desa. KPA sejak beberapa tahun lalu telah membangun inisiatif dengan apa yang disebut Desa Maju Reforma Agraria (Damara).

Damara merupakan perpaduan antara pembaruan agraria dan pembangunan pedesaan dengan tujuan; pertama, adanya perubahan tata kuasa, tata guna, tata produksi, tata distribusi dan konsumsi petani/RTP atas kekayaan agraria di tingkat desa/kampung; dan kedua, makin kuatnya kontrol, akses dan manajemen produksi petani serta komunitas desa atas kekayaan agraria dan desanya, serta semakin terjaminnya keberlanjutan hidup petani

Ada beberapa tahapan dalam menuju Damara diantaranya, penyelesaian konflik (tata kuasa), pemetaan wilayah secara partisipatif (tata guna), penataan sistem ekonomi (tata kelola) dan pembentukan basis-basis produksi dan distribusi (tata produksi dan konsumsi). Pendidikan dan pendirian CU sendiri merupakan bagian dari tata kelola atau penataan sistem ekonomi petani.

Hal yang diharapkan dari terciptanya Damara ialah terjadinya transformasi di pedesaan berbasiskan gerakan reforma agraria.

Petani Hitambara merupakan salah satu gerakan tani yang sedang menuju arah transformasi tersebut. Saat ini mereka menggarap tanah perkebunan bekas perusahaan perkebunan PT. Pakisadji Banjumas. Tanah tersebut dulunya merupakan tanah garapan yang telah digarap dan diduduki para pendahulu mereka sebelum akhirnya diserahkan pemerintah kepada pengusaha keturunan Tionghoa bernama Tiyambi.

Anggota organisasi kembali mengarap tanah tersebut setelah ditelantarkan pihak perusahaan sebelum habisnya masa izin mereka. Saat ini, anggota organisasi terus mengupayakan pengakuan dari negara atas tanah mereka tersebut melalui program redistribusi tanah 4,5 juta hektar yang telah dicanangkan pemerintah.

Sembari mengupayakan hak atas tanah itu, anggota organisasi bersama KPA terus melakukan penguatan-penguatan dalam internal organisasi. Salah satunya melakukan pemetaan partisipatif untuk melakukan penertiban luasan garapan masing-masing anggota, menyediakan tanah-tanah bagi fasilitas umum dan sosial.

 “Saat ini, para anggota organisasi petani terus mempersiapkan diri dengan meningkatkan kapasitas masing-masing anggota. Pedidikan credit union ini salah satunya ditujukan untuk semakin memperkuat organisasi.  Sehingga para petani bersiap menyambut masa depan yang lebih baik jika redistribusi tanah tersebut nantinya terealisasi,” kata Rudi.

“Tinggal sekarang negara segera mengimplementasikan program reforma agraria yang telah mereka janjikan,” tutup Rudi. (BW)

 

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934