Pelatihan Desa Maju Reforma Agraria di Kampong Secanggang

Farizal Sinaga

Langkat (kpa.or.id) - Badan Perjuangan Rakyat Penungggu Indonesia (BPRPI) dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menggelar pelatihan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) pada tanggal 20 – 25 April 2019 di Kampong Adat Secangggang, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Kampong Secanggangg merupakan satu diantara puluhan desa basis anggota KPA yang tengah mengimplementasikan Damara, atau pembangunan desa yang maju dan mandiri berbasis reforma agraria. Selain itu, Kampong Secanggang tercatat sebagai salah satu wilayah pelaksanaan Damara di wilayah adat.

Pelatihan yang berlangsung selama lima hari ini dipandu Ferry Widodo, dari Departemen Penguatan Organisasi KPA. Bersama-sama dengan para anggota organisasi menyusun rencana strategis ke depan. Rencana tata guna lahan dan juga praktik penataan produksi berbasis pertanian agroekologi.

Penyusunan rencana strategis ini, semula berangkat dari memahami situasi sosial di kampong. Memetakan peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan secara bersama untuk penyelesaian konflik (baca: tata kuasa) dan perbaikan tata produksi.

Dari proses tersebut, para anggota organisasi kemudian menyepakati beberapa rencana yang akan dilaksanakan dalam beberapa waktu ke depan, berupa pengembangan sekolah adat; penerapan pertanian organik, pengembangan koperasi Credit Union (CU); pelatihan pengolahan pasca panen; perbaikan akses jalan; mendorong akses terhadap listrik, pemetaan partisipatif; penguatan data untuk mendukung penyelesaian konflik dan pelatihan kader kepemimpinan.

Terkait perencanaan tata guna lahan (baca: pemetaan partisipatif), masyarakat mengimajinasikan bagaimana Kampong Damara Secanggang ke depan. Bagaimana ruang-ruang yang tersedia terdisrtibusi secara adil dapat memperkuat solidaritas antar warga. Meninggkatkan dan menjamin keberlanjutan demi generasi penerus kampong.

Wilayah Kampong Secanggang tercatat seluas 300 hektar yang dibagi ke dalam wilayah pemukiman, wilayah produksi pertanian, fasilitas sosial, dan lahan produksi untuk buah-buahan, apotik hidup, demplot pertanian dan sentra-sentra pengolahan hasil produk pertanian.

Penataan Produksi Berbasis Pertanian Agroekologi

Salah satu yang dilakukan dalam lima hari tersebut ialah pelatihan penataan produksi yang difasilitasi oleh Syahroni dari INAGRI. Pelatihan ini dilaksanakan pasca penyusunan strategi dan pelatihan partisipatif. Dalam kesempatannya, Syahroni memaparkan konsep dan praktik pertanian agroekologi yang diikuti antusiasme para peserta.

Pelatihan dimulai dengan memperbaiki kondisi tanah menggunakan pupuk kompos dan arang sekam. Dikarenakan tanah yang digarap warga saat ini tidak sesubur semasa sebelum masuknya perusahaan. Pasalnya, pihak perusahaan selama ini mengusahakan tebu dengan terus memakai pupuk kimia dan pestisida sehingga semakin mengikis tingkat kesuburan tanah.

Memang sejauh ini, warga masih bisa mengusahakan tanah tersebut untuk keperluan pertanian. Namun, biaya yang harus dikeluarkan pun menjadi tidak sedikit karna membutuhkan pupuk dan pestisida yang banyak agar tetap menghasilkan. Di sinilah pentingnya pertanian agroekologi untuk memulihkan kembali kandungan-kandungan tanah yang sudah mulai berkurang.

Pupuk kompos pada dasarnya berfungsi mengembalikan nutrisi dalam tanah. Dedaunan, sekam, bekatul, sampai sampah dapur merupakan bahan baku pembuatan kompos tersebut. Bahan-bahan ini lalu ditumpuk berlapis-lapis dalam kotak setinggi satu meter dan disiram oleh mikroorganisme lokal yang terbuat dari nasi.

Sementara arang sekam dibuat dengan cara membuat tungku sederhana dari kaleng dan seng bekas. Sekam sisa dari penggilingan padi ditumpuk begitu saja dan dibiarkan selama 8 jam hingga menjadi arang. Arang sekam berfungsi menyeimbangkan kadar keasaman tanah yang terlalu sering terpapar pestisida, mempertahankan kelembaban, dan membuka ruang pori tanah.

Penyediaan nutrisi dan pestisida juga sangat mudah. Buah-buahan muda, tunas rebung bambu, dedaunan pahit, semua yang ada disekitar bisa dimanfaatkan.

Syahroni juga menyampaikan pertanian agroekologi bukan sekedar praktik, namun ia juga mampu mengembalikan semangat selaras alam dan budaya kolektif yang selama ini hilang oleh pertanian konvensional ala revolusi hijau.

Model pertanian agroekologi melihat lanskap sebagai satu kesatuan yang harus dikelola secara bersama dengan gotong royong, mandiri dan berkelanjutan. Hal ini seirama dengan semangat Damara yang mempunyai prinsip-prinsip berkeadilan, solidaritas, swadaya, demokratis dan berdaulat,” jelas Syahroni.

Di akhir pelatihan, Fatul, Ketua Kampong Secanggang mewakili masyarakat menyampaikan kebanggaannya dan berterima kasih atas pengetahuan yang telah diperoleh.

Bukan timba (baca: masyarakat Kampong Secanggang) yang mencari sumur, tapi sumur yang mendekati timba”, selorohnya dengan logat melayu yang kental.

Harapannya, Kampong Secanggang kelak juga menjadi sumur bagi orang yang ingin mengenal Damara. Meluruskan kembali reforma agraria sebagai langkah mengatasi ketimpangan dan meningkatkan kesejahteraan di tengah pendangkalan makna reforma agraria sejati,” tutupnya.

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934