KPA dan Himapol IISIP Diskusi Reforma Agraria

Jakarta (kpa.or.id) – Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) IISIP Jakarta menggelar diskusi publik bertema “Politik Agraria di Indonesia: Implementasi dan Konsekuensinya”, Senin 29 April 2019..

Dimoderatori Sekretaris Himapol Periode 2018-2019 Muhammad Indhi, Himapol menghadirkan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika sebagai narasumber.

Ketua Umum Himapol IISIP Jakarta Casa Sulthan Mulya menuturkan, diskusi publik merupakan agenda rutin yang digelar dalam rangka menambah wawasan mahasiswa IISIP Jakarta tentang isu-isu terkini.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk melihat fenomena yang terjadi dari sudut pandang akademis. Berdasarkan data dan fakta, lewat kajian yang objektif dan komperhensif,” terang Casa di lokasi diskusi, Gedung Auditorium Kampus IISIP Jakarta.

Menurut mahasiswa semester 6 ini, politik agraria diangkat sebagai tema dikusi demi menyadarkan mahasiswa akan ketidakadilan agrarian yang marak terjadi di Indonesia.

Dengan kesadaran agraria, mahasiswa diharapkan memiliki kepedulian dan keberanian untuk bergerak membantu saudara sebangsa yang sedang kesulitan.

“Perlu kami tegaskan, isu agraria adalah bukan cuma urusan petani (peasant) sendiri. Melainkan persoalan bersama yang harus dicari solusinya bersama-sama,” tegasnya.

Sekjen KPA, Dewi Kartika mengapresiasi inisiatif Himapol menggelar diskusi ini. Ia menilai, perjuangan mewujudkan Reforma Agraria (RA) membutuhkan kerja sama dari semua elemen. Termasuk mahasiswa, selaku generasi muda.

“Kami harap, forum-forum seperti ini efektif menyambung komunikasi antara mahasiswa di kampus dengan aktifis dan gerakan-gerakan masyarakat sipil di lapangan," kata Dewi.

Dia mengamini bahwa ketidakadilan agraria bukan hanya urusan petani, nelayan atau kelompok masyarakat lain yang terdampak langsung.

Malahan, generasi muda yang berada jauh dari lokasi pun memiliki peran penting untuk mengentaskan ketidakadilan, dan memperkuat gerakan Reforma Agraria.

Peran pemuda bisa dimulai dengan mempelajari dan memahami masalah-masalah agraria. Lalu, membangun solidaritas untuk menentang ketidakadilan.

“Dengan begitu, kawan-kawan pemuda bisa menjadi bagian dari generasi muda yang mendorong pembaruan. Bahkan, melakukan pendampingan dan pengorganisasian masyarakat untuk menuntut keadilan,” imbuh Dewi.

Dalam pemaparan materinya, Dewi menggambarkan bahwa Indonesia sedang dilanda krisis agrarian yang kronis, masif dan sistemik.

Berdasarkan Catatan Akhir Tahun (Catahu) KPA, selama 2018 ditemukan 410 letusan konflik agrarian se-Indonesia diatas lahan seluas 807.177, 613 hektar. Melibatkan 87.568 kepala keluarga.

“Data-data ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang dilanda krisis Agraria yang kronis, masif dan sistemik dalam bentuk ketimpangan struktur agraria, konflik struktural agraria, deagrarianisasi, dan kerusakan ekologis,” tegas Dewi.

Sebagai solusinya, Ia meminta pemerintah mengembalikan orientasi kebijakan politik agrarian kepada spirit konstitusi dan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960.

“Mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan tanah dan memimpin penggunaannya, hingga semua tanah di seluruh wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik secara perseorangan maupun gotong-royang” kata Dewi, mengutip UUPA 1960.

Dewi mengakui agraria termasuk isu yang mainstream. Bahkan, kerap diidentikkan dengan ideologi dan Partai Komunis. Padahal Reforma Agraria adalah bentuk kongkret dari perwujudan keadilan sosial yang ada di sila ke-5 Pancasila.

Karena itu, Dewi menganjurkan Himapol dan organisasi pemuda/kemahasiswaan lain bisa menggelar diskusi tentang agraria secara rutin.

“Dengan begitu, semoga mampu memasyarakatkan agenda Reforma Agraria, serta menumbuhkan nalar kritis generasi muda di Indonesia atas ketidakadilan agrarian yang terjadi,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Departemen Kampanye KPA, Benni Wijaya menyatakan diskusi ini selaras dengan tujuan KPA.

Kami di KPA juga mempunyai agenda diskusi rutin dengan beberapa kampus, tidak hanya di Jakarta, namun juga di berbagai wilayah dan provinsi. Tujuannya adalah agar diskursus-diskursus reforma agraria terus meluas terutama di kampus dan kelompok akademisi,” katanya.

Ini sangat dibutuhkan, karena bagaimanapun kampus dan mahasiswa merupakan salah satu elemen penting yang akan mendukung perjuangan reforma agraria ke depan

Harapannya, kerjasama ini tidak hanya berhenti di level diskusi saja, namun ada tindaklanjut. Minimal terbentuknya kelompok-kelompok diskusi di setiap kampus yang kita ajak kerja sama,” imbuhnya.

 

 

 

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934