Serikat Tani Indramayu Gelar Vaksinasi untuk Memutus Rantai Penyebaran Covid-19 dan Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Petani

admin

Indramayu (kpa.or.id) – Serikat Petani Indramayu (STI) menyelenggarakan vaksinasi bagi para anggota serikat sebagai upaya untuk pendorong percepatan vaksin di wilayah pedesaan dan pemenuhahan hak kesehatan bagi para petani. Hal tersebut juga dilakukan dalam rangka penanggulangan dan pencegahan penyebaran Covid-19.  
Vaksinasi ini menyasar 23 basis anggota STI dengan melibatkan 339 petani yang mengikuti vaksin pada Selasa, 26 Oktober 2021. Adapun jenis vaksin yang disuntikan diantaranya AstraZaneca, Sinovac, Moderna, dan Pfizer. Seluruh peserta tersebut dikumpulkan pada 5 titik di Kabupaten Indramayu, dari jam 7 pagi sampai selesai untuk mengikuti proses vaksinasi.
 
Di kabupaten Indramayu sendiri menurut Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2021 tentang PPKM Level 4, Level 3, Level 2, dan Level 1 Covid-19 di Wilayah Jawa-Bali, pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, atau naik satu tingkat dari level sebelumnya.
Hal ini disebabkan masih rendahnya tingkat vaksinasi, salah satunya di Kabupaten Indramayu. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara menyebutkan, hingga Minggu (3/10), total vaksinasi warga di Kabupaten Indramayu mencapai 560.050 orang. Dari jumlah itu, vaksinasi tahap 1 mencapai 385.500 (26,35 persen), vaksinasi tahap 2 sebanyak 171.692 (11,74 persen) dan vaksinasi tahap 3 tercatat ada 2.858 (0,20 persen). 
 
Dari data tersebut, jumlah penyerapan vaksin di Indramayu masih rendah, yakni 20 persen dari 70 persen target untuk mencapai PPKM level I seperti yang ditargetkan pemerintah.
 
Atas dasar tersebut, STI melakukan inisiatif untuk bergotong royong melakukan vaksinasi untuk petani, terutama anggotanya. Abdul Rojak, selaku Ketua STI mengatakan, sebenarnya akses vaksin relatif mudah didapat di Indramayu. Akan tetapi, daya serapnya masih rendah. 
 
Berdasarkan tinjauannya, banyak warga khusunya petani yang masih takut untuk divaksin karena banyak informasi bahwa vaksin bisa menyebabkan kematian. Akhirnya ia bersama dengan STI melakukan edukasi ke 23 basis STI. 
 
“Kami menekankan bahwa informasi vaksin menyebabkan kematian belum bisa dibuktikan, secara medis. Selain itu, jika masyarakat tidak mau divaksin, Indramayu akan menetapkan kembali PPKM yang sangat ketat. Hal tersebut akan menghambat ekonomi masyarakat,” ujarnya saat menemui basis-basis di STI. 
 
Ia juga mengatakan untuk mendorong vaksinasi kepada petani, penggurus STI sampai harus ke sawah-sawah dalam rangka menjemput bola. Sebab, jika tidak demikian penyerapan vaksin tidak akan berlajan maksimal. Terlebih, petani merupakan masyarakat rentan jika terkena Covid-19.
 
Hamdan Zaelani, salah satu petani yang mendapatkan vaksin di Desa Sidamulya, Kecamatan Bongas, Indramayu, mengatakan petani harus mau untuk divaksin. Pasalnya petani harus tetap sehat untuk mencukupi kebutuhan ekonominya. Selain itu, dia berharap Covid-19 segera bisa dikendalikan karena menurutnya semasa pandemi harga panennya anjlok. 
 
“Harga padi bahkan sampai Rp4.000  per kilo, hal itu terjadi karena adanya alasan pembatasan. Kendaraan sulit untuk mendistribusikan hasil panen petani. Hasil panen susah dijual, akhirnya harganya anjlok,” ujar pria berusia 27 tahun itu.
 
Terakhir ia mengungkapkan agar petani tidak takut untuk di vaksin. “Jika semua sehat, ekonomi kita kembali pulih,” pungkas petani asal Desa Sukaslamet itu.

Berita Lainnya

Kegiatan

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934