MUNAS USAI, PERJUANGAN PUN DIPERHEBAT

JAKARTA (4/3/13) — Setelah melalui proses yang cukup melelahkan namun menggairahkan, akhirnya Munas VI KPA selesai juga. Ujung dari pelaksanaan Munas VI KPA diakhiri dengan pidato kemenangan sekaligus penutupan munas oleh Iwan Nurdin sebagai Sekretaris Jenderal KPA yang baru (2013-2016).
 
Munas VI KPA memberikan guratan penting dan menarik dalam sejarah perjalanan KPA (1994-2013). Sebagaimana dikabarkan dalam liputan jelang munas sebelumnya, setiap Munas KPA selalu membawa kejutan, perubahan dan penyegaran. Begitu pula dalam munas kali ini. Pelaksanaan Munas VI KPA sangat hangat dan diliputi suasana keakraban sesama pelaku gerakan.
 
Lebih dari sekedar forum resmi organisasi, Munas KPA telah berkembang menjadi ajang silaturahmi dan berbagi semangat juang sesama peserta yang lain daerah dan beda cara kerja, namu satu tujuan bersama: reforma agraria. Laporan ini hendak menyajikan seutas catatan kecil atas proses dan hasil penting dari munas yang digelar di Puncak Bogor – Jawa Barat yang udaranya segar dan dingin menusuk.
 
Penuh kejutan
 
Sebagaimana lazimnya, munas kali ini menggelar pertanggunjawaban pengurus lama. Idham Arsyad (Sekjen KPA) dan Usep Setiawan (Ketua Dewan Nasional KPA) periode 2009-2013 telah menyampaikan laporan pertanggunjawabannya. Idham yang akrab disapa “Bhotghel” telah mempertanggunjawabkan kepemimpinannya, dan sidang peserta pun menerima. Demikian halnya LPJ Dewan Nasional juga diterima. Usep menggunakan kesempatan ini untuk memberikan sejumlah refleksi dan saran-saran strategis untuk kemajuan KPA ke depan, mengingat tugas formalnya setelah 18 tahun mengabdi dalam struktur KPA, akan segera berakhir.
 
Sidang munas yang dipimpin Yusnono, Masyur M Yahya, dan Linda Wijayamukti ini selanjutnya berlangsung penuh kejutan. Salah satu kejutan penting adalah munculnya Dewi Kartika sebagai salah satu kandidat Sekjen KPA. Belum pernah terjadi sebelumnya, kader perempuan KPA ikut “bertarung” untuk mengisi posisi puncak pimpinan organisasi gerakan ini. Walaupun Dewi mendapat suara lebih sedikit dibanding Iwan, namun proses ini menjadi pendidikan politik tersendiri yang mewarnai semangat KPA yang mengehendaki kesetaraan gender dalam perjuangannya.
 
Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal kesamaan kesempatan untuk memimpin gerakan ke depan tanpa membedakan latar belakang dan perbedaan asal-usul. Inilah salah satu wujud dari semangat kesetaraan sekaligus kebhinekaan yang dijunjung tinggi KPA sejak dideklarasikan (1994).
 
Oleh Iwan Nurdin sebagai Sekjen terpilih, Dewi Kartika diangkat menjadi Wakil Sekjen KPA periode 2013-2016. Peserta munas pun terlihat lega dan bangga dengan hasil terbentuknya kepemimpinan baru yang segar dan menjanjikan kinerja yang optimal ini. Pidato kampanye keduanya memberi gambaran optimis bagi penguatan organisasi KPA ke dalam maupun ke luar. Substansi kampanye Iwan dan Dewi saling menggenapi dan menguatkan. Pengalaman kedua kader terbaik KPA yang telah 7 tahun bekerja bersama di Seknas KPA ini menjadi bekal penting dalam bekerjasama memimpin dan mengelola KPA ke depan.
 
Kejutan lainnya, adalah terpilihnya Agustiana secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Nasional KPA. Agustiana yang merupakan Sekjen Serikat Petani Pasundan (SPP) di Jawa Barat ini merupakan “orang lama” dan “senior” di KPA didaulat oleh peserta munas untuk menjadi pimpinan Dewan Nasional yang merupakan unsur legislatif yang mengawasi, mengontrol, sekaligus mitra kerja Sekjen KPA. Agustiana yang tokoh utama gerakan tani nasional ini sebelumnya sebagai anggota Dewan Nasional KPA Region Jawa Bagian Barat. Agustiana kini memimpin 10 anggota Dewan Nasional KPA yang berasal dari 10 region (dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusra-Bali).
 
Posisi dan peran Dewan Nasional KPA sangat strategis, selain untuk “menjaga” Sekretariat Nasional agar selalu konsisten dan bekerja serius menjalankan mandat-mandat Munas VI KPA, juga dalam konteks konsolidasi dan penguatan gerakan agraria di wilayah. Kesepuluh anggota Dewan Nasional KPA yang dipilih anggota di regionnya masing-masing juga punya tanggungjawab untuk menghidupkan dan membenahi KPA Wilayah. Sinergi antara posisi dan peran Sekretariat Nasional, Dewan Nasional dan KPA Wilayah inilah yang akan memastikan konsolidasi dan layanan kepada anggota akan berjalan dengan baik.
 
Landasan kerja
 
Selain kepengurusan baru, munas juga telah menetapkan sejumlah landasan kerja, berupa: aturan, resolusi dan program organisasi. Sebelum pemilihan pimpinan dan pengurus KPA telah dirumuskan dan ditetapkan perubahan-perubahan pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) KPA. Perubahan ini dimaksudkan untuk meneguhkan nilai, tugas, fungsi, struktur dan hal-hal strategis organisasi KPA. Dengan landasan AD/ART baru maka pimpinan, pengurus dan anggota KPA dapat berjalan lebih legal, teguh dan solid dalam mempercepat realisasi reforma agraria sejati.
 
Salah satu unsur yang diperjelas dan diperkuat adalah keberadaan Dewan Pakar KPA. Tugas dan fungsi Dewan Pakar KPA diteguhkan dan dikuatkan untuk membantu unsur pimpinan, pengurus dan anggota KPA. Dewan Pakar KPA diharapkan berkontribusi lebih produktif dalam hal perumusan substansi dan strategi gerakan KPA agar lebih berkualitas dan berwibawa di masa depan. Pengaturan lebih lanjut dari keberadaan Dewan Pakar KPA sepenuhnya menjadi kewenangan Sekjen KPA terpilih.
 
Munas VI KPA juga telah menetapkan “Resolusi KPA” yang diserap dari hasil-hasil Konferensi Ekonomi Politik Agraria Nasional yang digelar sehari sebelum munas dimulai. Konferensi yang dilaksanakan oleh KPA bersama belasan organisasi jaringan telah berlangsung lancar dan sukses. Resolusi KPA yang saripatinya diserap dari konferensi ini berisi pandangan kontemporer KPA atas situasi dan kondisi agraria nasional, serta seruan-seruan ke dalam maupun keluar. Substansi resolusi yang dihasilkan Komisi Resolusi ini disepakati Pleno Munas tanpa perdebatan berarti. Adapun redaksionalnya akan disempurnakan oleh Sekjen terpilih bersama timmnya. Resolusi inilah pandangan dan sikap politik resmi KPA, sekaligus dasar penyusunan program kerja KPA untuk tiga tahun ke depan.
 
Di samping resolusi, munas juga menyepakati Garis Besar Haluan Program (GBHP) untuk dijalankan oleh pengurus baru. GBHP ini berisi program-program pokok yang meliputi: (1) Pengembangan organisasi KPA; (2) Memperkuat posisi dan peran politik KPA; (3) Mengembangkan media center KPA; (4) Penggalangan dana organisasi, dan (5) Penataan pengurus KPA. Kelima program pokok ini harus diterjemahkan oleh Sekjen dalam Rapat Kerja Nasional yang digelar sesegera mungkin.
 
Refleksi lintas generasi
 
Ada sesi menarik dalam Munas VI KPA, yakni refleksi lintas generasi pelaku sejarah KPA. Sesi refleksi ini berlangsung sejenak setelah munas resmi dibuka oleh Usep Setiawan sebagai Ketua Panitia Pengarah/Ketua Dewan Nasional KPA, dan sesaat sebelum proses persidangan munas dimulai. Turut memberikan laporan dan sambutan di awal pembukaan munas ini adalah DD Shineba (Ketua Panitia Pelaksana Munas VI KPA), dan Idham Arsyad (Sekjen KPA periode 2009-2013).
 
Turut memberikan refleksi yang dipandu oleh Dewi Kartika ini, adalah: Maria Roewiastoeti, Dianto Bachriadi, Agustiana, Iwan Nurdin, dan Gunawan Wiradi. Kelima tokoh KPA yang memberikan refleksi ini sama-sama memberi makna atas kehadiran KPA dalam dinamika gerakan sosial yang lebih luas. Semuanya memandang penting posisi dan peran KPA agar terus diperkuat mengingat KPA-lah organisasi gerakan agraria di tingkat nasional yang pertama dan paling utama memperjuangkan reforma agraria. KPA bukan hanya tetap ada, tapi memberi makna terutama bagi rakyat yang haus keadilan dan tengah berjuang di lapangan. KPA ialah pemersatu pelaku gerakan agraria di Indonesia.
 
Dari refleksi lintas generasi ini diperoleh peneguhan atas pentingnya regenerasi dan kaderisasi dalam gerakan agraria. Dipegang prinsip, setiap generasi dilahirkan oleh zamannya, dan setiap zaman melahirkan generasi barunya. Generasi boleh berganti, tapi semangat dan tujuan mewujudkan keadilan agraria sebagai bagian dari keadilan sosial tak boleh surut oleh waktu atau lekang oleh zaman. Di situlah tugas sejarah KPA dan orang-orang yang bergiat di dalamnya. Air sungai boleh mengalir dengan beragam cara, tapi semuanya setia pada sumbernya yang satu: samudera!
 
Pada malam sebelum Hari-H Munas VI KPA juga dilakukan “Reuni Pendiri KPA”. Forum rileks yang dipandu Boy Fidro (guru gerakan yang kini bermukim di Pangandaran) itu berlangsung dengan sangat akrab. Para pendiri KPA yang hadir semuanya menyampaikan kesan dan pesannya mengenai KPA dan hangatnya pergaulan di dalam KPA. Tak ada sekat dan jarak di antara para pendiri, sekalipun dunia yang kini tengah digeluti berbeda-beda. Kesamaan cita-cita awal ketika mendirikan KPA 18 tahun talu, itulah yang mendekatkan dan menyatukan para pendiri ke dalam arus gerakan agraria melalui perahu bernama KPA.
 
Maka, dalam reuni ini meluncurkan penggalan-penggalan kisah para pendiri yang disimak oleh hadirin peserta munas KPA. Yang dikisahkan kadang hal yang sangat serius, namun juga tak jarang yang ringan dan lucu. Forum berbagi cerita ini pun mengalir lincah diselingi tawa lepas dan candaan khas “orang lama” gerakan. Mereka yang hadir dan menyampaikan refleksinya antara lain: Henry Saragih, Agustiana, Desmon J Mahesa, Dedy Mawardi, Wayan Bob, Ngurah Karyadi, Dianto Bachriadi, Sandra Moniaga, Noer Fauzi, Paskah Irianto, Patra M Zein, Laela, Yayak Yatmaka, Mukti-Mukti, Reza Muharam, Usep Setiawan, ditutup Gunawan Wiradi.
 
Reuni ini bukan hanya kangen-kangenan namun menjadi awal langkah baru bagi penyegaran komitmen para pendiri untuk ambil bagian dalam memperkuat gerakan KPA ke depan. Semua pendiri KPA punya tanggung jawab moral untuk memberikan perhatian dan dukungan dalam bentuk apapun bagi kemajuan KPA ke depan. Pengurus KPA yang baru diharapkan membuat berbagai cara untuk merawat dan menjahit potensi yang ada di para pendiri KPA ini, untuk kemajuan bersama.
 
Demikianlah sekelumit catatan proses dan hasil-hasil penting dari Munas VI KPA. Selamat bertugas kepada pimpinan dan pengurus KPA yang baru. Selamat berjuang bagi seluruh anggota KPA di seluruh penjuru Tanah Air. Mari pastikan gerakan reforma agraria makin bergulir cepat dan menguat. Munas telah usai dan perjuangan pun diperhebat. ***tanisa***JAKARTA (4/3/13) — Setelah melalui proses yang cukup melelahkan namun menggairahkan, akhirnya Munas VI KPA selesai juga. Ujung dari pelaksanaan Munas VI KPA diakhiri dengan pidato kemenangan sekaligus penutupan munas oleh Iwan Nurdin sebagai Sekretaris Jenderal KPA yang baru (2013-2016).
 
Munas VI KPA memberikan guratan penting dan menarik dalam sejarah perjalanan KPA (1994-2013). Sebagaimana dikabarkan dalam liputan jelang munas sebelumnya, setiap Munas KPA selalu membawa kejutan, perubahan dan penyegaran. Begitu pula dalam munas kali ini. Pelaksanaan Munas VI KPA sangat hangat dan diliputi suasana keakraban sesama pelaku gerakan. Lebih dari sekedar forum resmi organisasi, Munas KPA telah berkembang menjadi ajang silaturahmi dan berbagi semangat juang sesama peserta yang lain daerah dan beda cara kerja, namu satu tujuan bersama: reforma agraria. Laporan ini hendak menyajikan beberapa catatan atas proses dan hasil penting dari munas yang ditutup pada dini hari di Puncak Bogor yang udaranya dingin menusuk.
 
Penuh kejutan
 
Salah satu kejutan dalam munas kemarin adalah munculnya Dewi Kartika sebagai salah satu kandidat Sekjen KPA. Belum pernah terjadi sebelumnya, kader perempuan KPA ikut “bertarung” untuk mengisi posisi puncak pimpinan organisasi gerakan ini. Walaupun Dewi mendapat suara lebih sedikit dibanding Iwan, namun proses ini menjadi pendidikan politik tersendiri yang mewarnai semangat KPA yang mengehendaki kesetaraan gender dalam perjuangannya.
 
Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal kesamaan kesempatan untuk memimpin gerakan ke depan tanpa membedakan latar belakang dan perbedaan asal-usul. Inilah semangat kesetaraan sekaligus kebhinekaan yang dijunjung tinggi KPA sejak dideklarasikan (1994).
 
Oleh Iwan Nurdin sebagai Sekjen terpilih, Dewi Kartika diangkat menjadi Wakil Sekjen KPA periode 2013-2016. Peserta munas pun terlihat lega dan bangga dengan hasil terbentuknya kepemimpinan baru yang segar dan menjanjikan kinerja yang optimal ini. Pidato kampanye keduanya memberi gambaran optimis bagi penguatan organisasi KPA ke dalam maupun ke luar. Substansi kampanye Iwan dan Dewi saling menggenapi dan menguatkan. Pengalaman kedua kader KPA yang telah 7 tahun bekerja bersama di Seknas KPA ini menjadi bekal penting dalam mempererat bekerjasama keduanya dalam memimpin dan mengelola KPA ke depan.
 
Kejutan lainnya, adalah terpilihnya Agustiana secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Nasional KPA. Agustiana yang merupakan Sekjen Serikat Petani Pasundan ini merupakan “orang lama” dan “senior” di KPA didaulat oleh peserta munas untuk menjadi pimpinan Dewan Nasional yang merupakan unsur legislatif yang mengawasi, mengontrol, sekaligus mitra kerja dari Sekjen KPA. Agustiana yang tokoh utama gerakan tani nasional ini sebelumnya sebagai anggota Dewan Nasional KPA Region Jawa Bagian Barat. Agustiana kini memimpin 10 anggota Dewan Nasional KPA yang berasal dari 10 region.
 
Posisi dan peran Dewan Nasional KPA sangat strategis, selain untuk “menjaga” Sekretariat Nasional agar selalu konsisten dan bekerja serius menjalankan hasil-hasil Munas VI KPA, juga dalam konteks konsolidasi dan poenguatan gerakan agraria di wilayah. Kesepuluh anggota Dewan Nasional KPA yang dipilih anggota di regionnya masing-masing juga punya tanggungjawab untuk memnghidupkan dan membenahi KPA Wilayah. Sinergi antara posisi dan peran Sekretariat Nasional, Dewan Nasional dan KPA Wilayah inilah yang akan memastikan konsolidasi dan layanan kepada anggota akan berjalan dengan baik.
 
Sebelum pemilihan pimpinan dan pengurus KPA telah dirumuskan dan ditetapkan perubahan-perubahan pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) KPA. Perubahan ini dimaksudkan untuk meneguhkan nilai, tugas, fungsi, struktur dan hal-hal strategis organisasi KPA. Dengan landasan AD/ART baru maka pimpinan, pengurus dan anggota KPA dapat berjalan lebih teguh dan solid dalam mempercepat realisasi reforma agraria sejati. Salah satu unsur yang diperjelas dan diperkuat adalah keberadaan Dewan Pakar KPA. Tugas dan fungsi Dewan Pakar KPA diteguhkan dan dikuatkan untuk membantu unsur pimpinan, pengurus dan anggota dalam hal perumusan substansi dan strategi gerakan KPA agar lebih kuat di masa depan. Pengaturan lebih lanjut dari keberadaan Dewan Pakar KPA sepenuhnya menjadi kewenangan Sekjen KPA terpilih.
 
Munas VI KPA juga telah menetapkan “Resolusi KPA” yang diserap dari hasil-hasil Konferensi Ekonomi Politik Agraria yang digelar sehari seblum munas dimulai. Resolusi KPA ini berisi pandangan kontemporer KPA atas situasi dan kondisi agraria nasional serta seruan-seruan ke dalam mapun keluar dalam bentuk resolusi. Substansi resolusi yang dihasilkan Komisi Resolusi ini disepakati Pleno Munas tanpa perdebatan berarti, dan redaksionalnya akan disempurnakan oleh Sekjen terpilih bersama timmnya. Resolusi inilah yang akan menjadi pandangan sikap politik KPA dalam menyusun program kerja untuk tiga tahun ke depan.
 
Di samping resolusi, munas juga menyepakati Garis Besar Haluan Program (GBHP) untuk dijalankan oleh pengurus baru. GBHP ini berisi program-program pokok yang meliputi: (1) Pengembangan organisasi KPA; (2) Memperkuat posisi dan peran politik KPA; (3) Mengembangkan media center KPA; (4) Penggalangan dana organisasi, dan (5) Penataan pengurus KPA. Kelima program pokok ini harus diterjemahkan oleh Sekjen dalam Rapar Kerja Nasional sesegera mungkin.
 
Refleksi lintas generasi
 
Ada sesi menarik dalam Munas VI KPA, yakni refleksi lintas generasi pelaku sejarah KPA. Sesi ini berlangsung sejenak setelah munas resmi dibuka oleh Ketua Panitia Pengarah/Ketua Dewan Nasional KPA dan sebelum proses persidangan munas dimulai.
 
Turut memberikan refleksi yang dipandung oleh Dewi Kartika ini, adalah: Maria Roewiastoeti, Dianto Bachriadi, Agustiana, Iwan Nurdin, dan Gunawan Wiradi. Kelima tokoh KPA yang memberikan refleksi sama-sama memandang pentingnya posisi dan peran KPA terus diperkuat mengingat KPA-lah organisasi gerakan agraria di tingkat nasional yang pertama dan paling utama memperjuangkan reforma agraria.
 
Dari refleksi lintas generasi ini diperoleh peneguhan atas pentingnya regenerasi dan kaderisasi dalam gerakan agraria. Dipegang prinsip, setiap generasi dilahirkan oleh zamannya, dan setiap zaman melahirkan generasi barunya. Generasi boleh berganti, tapi semangat dan tujuan mewujudkan keadilan agraria sebagai bagian dari keadilan sosial tak boleh surut oleh waktu atau lekang oleh zaman. Di situlah tugas sejarah KPA dan orang-orang yang bergiat di dalamnya.
 
Pada malam sebelum Hari-H Munas VI KPA juga dilakukan “Reuni Pendiri KPA”. Forum rileks yang dipandu Boy Fidro (guru gerakan yang kini bermukim di Pangandaran) itu berlangsung dengan sangat akrab. Para pendiri KPA yang hadir semuanya menyampaikan kesan dan pesannya mengenai KPA dan hangatnya pergaulan di dalam KPA.
 
Tak ada sekat dan jarak di antara para pendiri, sekalipun dunia yang kini tengah digeluti berbeda-beda. Kesamaan cita-cita awal ketika mendirikan KPA 18 tahun talu, itulah yang mendekatkan dan menyatukan para pendiri ke dalam arus gerakan agraria melalui perahu bernama KPA.
 
Maka, dalam reuni ini meluncurkan penggalan-penggalan kisah para pendiri yang disimak oleh hadirin peserta munas KPA. Mereka yang hadir dan menyampikan refleksinya adalah Henry Saragih, Agustiana, Desmon Mahesa, Dedy Mawardi, Wayan Bob, Ngurah Karyadi, Dianto Bachriadi, Sandra Moniaga, Noer Fauzi, Paskah Irianto, Patra M Zein, Laela, Yayak Yatmaka, Mukti-Mukti, Usep Setiawan, ditutup Gunawan Wiradi.
 
Reuni ini bukan hanya kangen-kangenan namun menjadi awal langkah baru bagi penyegaran komitmen para pendiri untuk ambil bagian dalam memperkuat gerakan KPA ke depan. Pengurus KPA yang baru diharapkan membuat berbagai cara untuk merawat dan menjahit potensi yang ada di para pendiri KPA ini, untuk kemajuan bersama.
 
Demikianlah sekelumit catatan proses dan hasil-hasil penting dari Munas VI KPA. Selamat bertugas kepada pimpinan dan pengurus KPA yang baru. Selamat berjuang bagi seluruh anggota KPA di seluruh penjuru Tanah Air. Mari pastikan gerakan reforma agraria makin bergulir cepat dan menguat. Munas telah usai dan perjuangan pun berlanjut. ***tanisa***

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934