GeSLA Atasi Covid-19: Solidaritas Tani-Buruh Menjawab Ancaman Krisis Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

admin

Jakarta (kpa.or.id) - Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) membangun kerjasama melalui Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria (GeSLA) Atasi Covid-19. Gerakan ini merupakan konsolidasi antara gerakan tani dan buruh dalam menjawab ancaman krisis pangan sebagai imbas pandemi Covid-19.

Situasi pandemi Covid-19 telah melahirkan krisis-krisis turunan, seperti krisis ekonomi dan pangan yang sangat berdampak kepada kelompok rentan pedesaan maupun perkotaan.

Kementerian Tenaga Kerja mencatat kurang lebih 2,8 juta pekerja di-PHK dan dirumahkan. Situasi ini secara langsung telah berdampak langsung bagi kehidupan rumah tangga mereka.

Sementara di wilayah pedesaan, petani yang tengah memasuki masa panen juga tidak luput dari dampak krisis. Mereka mengadapi penurunan harga pangan akibat permintaan yang menurun, seperti dialami Serikat Petani Majalengka (SPM). Situasi fluktuasi harga yang tak menentu juga dialami Serikat Tani Indramayu (STI) yang menanam padi sebagai komoditas pangan utamanya. 

Gerakan ini berupaya menyambungkan antara produsen, khususnya petani dengan konsumen prioritas di perkotaan, buruh, tenaga kerja informal dan kelompok rentan lainnya yang sangat merasakan dampak dari pandemi Covid-19 tersebut. Memutus mata rantai distribusi yang panjang dan berbiaya tinggi agar konsumen prioritas di atas mendapatkan beras dan harga pangan lainnya dengan harga terjangkau dan sensitif krisis.

Tahap pertama, GeSLA telah menyerap panen raya dari basis-basis petani STI sejumlah 2,5 ton beras yang dialirkan ke anggota-anggota KPBI di Jakarta melalui Lumbung Agraria.

Saat ini juga akan dilaksanakan distribusi pangan gelombang kedua dari Serikat Petani Karawang (Sepetak) sejumlah 4 ton terdiri dari beras premium dan medium. Nantinya akan didistribusikan secara langsung ke masing-masing anggota KPBI di berbagai titik di Jabodetabek.

Sekretaris Jenderal KPA, Dewi Kartika mengatakan program ini akan menguntungkan baik buruh dan tani.

“Keluarga petani bisa tetap tersenyum panennya membawa berkah, keluarga buruh pun tersenyum dapat nikmati beras berkualitas dengan harga sangat ekonomis jauh dari harga pasar karena rantainya sudah diputus,” ungkapnya.

Damar Panca, dari KPBI menyambut baik aksi solidaritas ini. Ia menekankan penting agar gerakan ini terus berlanjut. Solidaritas Buruh-Tani dalam berjuang, tidak hanya dalam situasi krisis ini, namun harapannya bisa terus berlanjut ketika situasi sudah kembali normal nanti.

“Organisasi petani maupun buruh berharap kerjasama ini bisa berlangsung lebih jauh kedepan, tidak saja di saat pandemik,” tuturnya.

Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria, Bentuk Nyata Solidaritas Tani-Buruh

Lumbung Agraria sendiri, dalam situasi normal merupakan badan usaha ekonomi (koperasi) KPA yang bekerja mendistribusikan dan memasarkan hasil-hasil produksi pangan petani dan serikat anggota kepada masyarakat luas dengan prinsip-prinsip keadilan, solidaritas, kemandirian dan keberlanjutan.

Anggota KPA, organisasi tani dan masyarakat adat selama ini telah mengembangkan konsep pembangunan baru berbasis agraria melalui Desa Maju Reforma Agraria (Damara).

Damara ini mempraktekan model-model reforma agraria tingkat desa dan kampung berdasarkan inisiatif masyarakat di bawah. Dari mulai penguasaan, penggunaan dan pengusahaan tanahnya, usaha produksi, distribusi dan konsumsi ditata ulang dan/atau diperkuat dalam semangat Damara. 

Khusus menghadapi dampak luas darurat kesehatan, Lumbung Agraria menggagas GeSLA Atasi Covid-19 untuk menjalankan aksi solidaritas antara desa dengan kota, salah satunya dengan mendukung ketersediaan stok pangan komunitas rentan di perkotaan menghadapi dampak pandemik. 

Hal ini sebagai tindak lanjut dari seruan Sekjen KPA, Dewi Kartika sebelumnya. Pada seruan tersebut, ia mengajak seluruh anggota, pimpinan serikat, sekretariat wilayah dan para aktivisnya bahu-membahu mencegah penyebaran virus ke desa-desa.

Selain itu, Dewi juga berpesan kepada seluruh anggota agar menjaga ketersediaan pangan sehat di keluarga dan komunitas untuk mengantisipasi krisis ekonomi dan lonjakan harga pangan selama menghadapi pandemi dan jelang puasa.

Bentuk solidaritas bagi desa, bagi komunitas yang tak punya ketersediaan pangan yang cukup, utamanya di komunitas kota-kota yang jauh dari lumbung pangan”, seru Dewi.

Sambil kita mendorong kebijakan pemerintah yang tengah menetapkan pembatasan interaksi, sistem belajar dan bekerja dari rumah, agar secara sistematis pula turun tangan menjamin subsidi pangan, insentif dan kebutuhan dasar lainnya bagi keluarga tak mampu dan buruh harian,” lanjutnya.

Lebih dari itu, Dewi menegaskan gerakan buruh setiap May Day ikut menyuarakan agenda Reforma Agraria sebagai bagian dari agenda perjuangan mereka. Petani pun ikut memperingati hari buruh. Sebaliknya, di setiap Hari Tani Nasional (HTN), jaringan buruh ikut bergabung bersama aksi petani, petani pun suarakan hak-hak buruh, termasuk buruh tani dan buruh kebun.

Itulah mengapa, jaringan buruh menjadi bagian dari keprihatinan gerakan reforma agraria di masa krisis saat ini. GeSLA ini adalah gerakan solider, petani bantu buruh, buruh bantu petani, simbolisasi relasi dan aksi nyata antara desa dengan kota yang saling memperkuat,” tutup Dewi.

Damar Panca menambahkan, saat ini PHK sudah terjadi di mana-mana, diikuti kelangkaan pangan. Ini menjadi salah satu solusi kita bersama untuk memperkuat perekonomian rakyat di tengah ancaman krisis pangan yang akan kita hadapi ke depan,” pungkasnya.

 

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934