GeSLa Atasi Covid-19: Solidaritas Pangan dari Wilayah Konflik Agraria untuk Buruh Korban PHK

admin

Semarang (kpa.or.di) - Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria (GeSLA) Atasi Covid-19 terus mengalir ke berbagai provinsi di Indonesia. Setelah menjangkau beberapa wilayah di Jabodetabek dan Jawa Barat, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bersama Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) terus memperluas inisiatif GeSLA, membangun solidaritas desa-kota di tengah krisis multidimensi akibat pandemi Covid-19 di tingkatan daerah, menghubungkan produsen skala kecil (petani) dengan konsumen prioritas di perkotaan (buruh dan kelompok rentan lainnya)

Bertepatan dengan peringatan May Day, 1 Mei 2020, Forum Perjuangan Petani Batang (FPPB), organisasi tani anggota KPA di Jawa Tengah memberikan donasi berupa 1 (satu) ton beras dan 5 kwintal singkong kepada anggota Serikat Buruh Anggota (SBA) Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) PT. JayKay File Indonesia (JFKI) Semarang yang baru saja terkena PHK, salah satu anggota KPBI di Jateng. Solidaritas pangan tersebut berasal dari tanah-tanah garapan petani FPPB yang saat ini masih berkonflik dengan Perum Perhutani, salah satu perusahaan milik negara.

Selama pandemi ini, PT. JFI telah memutus hubungan kerja terhadap 368 dari 600 pekerja di perusahaan mereka, salah satu yang terkena imbas adalah anggota SBA Serbuk.

Sugandi, ketua FPPB mengatakan bantuan ini merupakan solidaritas dari para petani kepada rekan-rekan buruh yang tengah memperingati Hari Buruh Internasional. Apalagi kita mendengar, saudara kita yang berprofesi sebagai pekerja dan buruh banyak yang mengalami PHK akibat wabah corona ini,” ujarnya.

“Meski kita juga menjadi korban, di mana saat ini kami masih terus-menerus mengalami intimidasi akibat konflik agraria, namun masih bisa menggarap dan memanen meski di tengah ancaman perusahaan. Namun bagaimana dengan nasib para pekerja yang mengalami pemecatan? Kita bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang mereka tanggung,” lanjut Sugandi.

“Maka dari itu, kita berinisiatif mengumpulkan hasil panen anggota untuk didonasikan kepada buruh yang terkena PHK akibat korona. Sesama pergerakan kita harus saling tolong menelong”, tambahnya.

Sugandi juga mengingatkan pentingnya bagi gerakan rakyat untuk bersatu menolak Omnibus Law.

“Kita tidak membutuhkan Omnibus Law, yang kita butuhkan adalah Reforma Agraria Sejati,” ucap Sugandi dengan tegas.

Sementara, Purwanto, Kordinator KPA Wilayah Jateng mengatakan solidaritas ini momentum bagi gerakan, baik itu gerakan tani maupun gerakan buruh untuk menggalang persatuan.

"Momentum May Day 2020,  di tengah pandemi menjadi pembelajaran bagi kaum pergerakan, bahwa persatuan pergerakan menjadi penting ketika negara telah gagal mensejahterakan rakyatnya, buruh di-PHK tanpa pesangon, pembahasan RUU Cipta Kerja justru semakin menunjukkan betapa negara lebih berpihak pada investor,” ujar Purwanto.

Begitu pun Rudi Casrudi, Staf Departemen Penguatan Organisasi KPA sekaligus pengelola Lumbung Agraria ini mengapresiasi inisiatif  yang dilakukan oleh FPPB.

“Membantu orang lain sama artinya sedang mambantu diri sendiri, FPPB menyadari betul solidaritas ini penting” ungkap Rudi.

“Apalagi solidaritas ini didistribusikan kepada para buruh korban PHK yang notabene tidak memproduksi makanan,” tutupnya.

Merespon solidaritas tersebut, Abdul Gopur dari Serbuk  yang mewakili kawan-kawan anggota SBA Serbuk JKFI, mengapresiasi betul apa yang dilakukan oleh FPPB – KPA.

“Saya atas nama Serbuk JKFI dan KPBI sangat terharu dengan kepedulian kawan-kawan FPPB dan KPA. Solidaritas dari kawan-kawan sangat bermakna sekali bagi kami, semoga ini menjadi jalan lapang bagi persatuan kaum buruh dengan para petani dalam satu arah juang yang sama” ucap Gopur pada saat serah-terima donasi.

Sama halnya dengan Khamid Istakhori, Pengurus Komite Eksekutif Serbuk. Ia berterima kasih kepada FPPB dan KPA atas donasi pangan untuk anggota Serbuk yang terkena PHK di Semarang.

“Atas nama kawan-kawan Serbuk saya mengucapkan terima kasih banyak atas solidaritas tersebut. Bantuannya benar-benar bermanfaat untuk kawan-kawan buruh yang ter-PHK di masa sulit ini” ucap Khamid dalam percakapan whatsapp.

Ia berharap, solidaritas ini bisa terus berjalan ke depan dan semakin meluas.

“Bukan saja menghadapi kenaikan harga-harga, ancaman wabah covid-19, tapi juga berjuangan bersama membatalkan Omnibus Law” tutup Khamid.

Solidaritas di atas merupakan wujud kerjasama KPA dan KPBI, solidaritas antara kaum tani dan buruh dalam semangat perjuangan bersama, rakyat bantu rakyat. Inisiatif ini muncul sebagai respon dari minimnya dukungan negara terhadap petani dan buruh yang menjadi korban pandemi Covid-19.

Di saat para pekerja di perkotaan banyak mengalami ancaman PHK, pera petani di desa juga terancam mengalami kerugian akibat fluktuasi harga yang terjadi akibat pandemi ini.

GeSLA lahir untuk menjawab tantangan dan situasi tersebut. Melalui Lumbung Agraria, KPA bersama KPBI dan beberapa jaringan lainnya menggagas berbagai skema distribusi pangan, menghubungkan desa-kota, menyalurkan pangan dari lumbung-lumbung pangan petani ke meja makan para konsumen prioritas di perkotaan.

Selain donasi ini, selama dua bulan terkahir, KPA dan KPBI juga telah melakukan “Aksi Pangan Sehat dan Ekonomi”. Lumbung Agraria menyerap secara langsung panen-panen petani guna memutus rantai distribusi yang panjang dan berbiaya tinggi agar konsumen prioritas di perkotaan mendapat bahan pangan yang berkualitas dengan harga terjangkau dan sensitif krisis. Tentunya dengan pemberian insentif agar harga di tingkat petani normal dan bisa ditekan serendah mungkin di tingkatan konsumen. (AR)

 

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934