ARAS Hari Ke-1: Debat Agraria Klasik

admin

Jakarta (kpa.or.id) - Setalah dibuka satu hari sebelumnya, Sabtu, 22 Agustus 2020, para kader muda peserta Akademi Reforma Agraria Sejati (ARAS) mulai mengikuti materi pendidikan pada hari pertama, Minggu, 23 Agustus 2020.

Pendidikan ini berlangsung secara online yang terbagi ke dalam 12 kelas yang tersebar dri beberapa wilayah/basis anggota KPA, seperti Kelas Parapat, Medan, Palembang-Jambi, Jakarta-Kalimantan Barat, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Indramayu-Majalengka, Salatiga, Blitar-Bali, Makassar dan Kendari.

Hal ini bertujuan untuk mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Dikarenakan juga situasi yang belum memungkinkan untuk melaksanakan pendidikan secara daring. Meski begitu, keterbatasan ini tidak menjadi penghalang bagi para peserta untuk terus semangat mengikuti seluruh proses pendidikan.

Hari ke-1, para peserta mengikuti materi “Debat Agraria Klasik” yang dibawakan oleh Majelis Pakar KPA, yakni Gunawan Wiradi dan Muhammad Shohibudin. Debat Agraria Klasik ini penting untuk peserta sebagai tonggak awal perdebatan dan kelahiran gerakan reforma agraria menuju fase berikutnya sampai apa yang terjadi saat ini.

Dalam kesempatannya, Gunawan Wiradi mengajak para peserta untuk melihat dan memahami perdebatan awal agraria di Moskow, Rusia antara kelompok Marxist dengan Chayanovian atau antara pertanian kolektif dengan pertanian skala rumah tangga. Selanjutnya perdebatan dampak reforma agraria pasca restorasi Meiji antara mazhab Konoha dan Ranoha di Jepang.

Dalam materinya Pak GWR menjelaskan perjalan panjang sejarah reforma Agraria yang diantaranya ada perdebatan yang terjadi di Akademi Moskov antara kelompok Marxis dengan kelompok Chayanov yang berdebat soal "koperasi dan kolektivisasi" sampai perdebatan di Jepang antara kelompok Kozaha dan kelompok Ronoha pasca restorasi Meiji yang menyoal ada atau tidak ada artinya Reforma Agraria.

Setelah pemapran beliau, materi debat agraria klasik ini dilanjutkan Muhammad Shohibudin.

Ia menyinggung soal penetrasi Kapitalisme yang terjadi sering kali dibarengi dengan perampasan (enclosure) dan kekerasan yang menyebabkan para petani tercerabut dari tanah dan ruang hidup mereka. Hal ini terjadi akibat pembangunan yang dilakukan oleh negara seringkali meniadakan eksistensi kelas bawah.

Dalam sesi ini, salah satu peserta Kelas Jakarta-Kalimantan Barat, Jocoeb Sitompul menanyakan tentang peran pemerintah Indonesia di era 90-an yang kemudian dijawab oleh langsung oleh pemateri dengan perjalanan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama pada tahun 1960-an yang memperdebatkan tentang halal haramnya Land Reform yang kemuadian menjadi salah satu landasan lahirnya UUPA.

Setelah seharian disuguhi materi, malamnya harinya para peserta melakukan sesi diskusi dan refleksi yang dipandu langsung oleh Sekjen KPA dan Dewan Guru ARAS.

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934