Jatuh Bangun Menjadi Petani

admin

Kreativitas dan inovasi kadangkala muncul di tengah-tengah impitan hidup. Hal ini lah yang yang dialami Inus Suci, Nengah Kisit dan puluhan eks trasnmigran Timor-Timur asal Buleleng. Di tengah berbagai keterbatasan, para eks transmigran ini tidak patah arang untuk bertahan hidup, mengasah kreatifitas dengan mengelolah dan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka untuk melanjutkan keinginan menjadi petani. Semua itu mereka lakukan semata-mata dengan mengandalkan semangat kebersamaan dan gotong di antara sesama para eks transmigran. Saling mendukung dalam melalui masa-masa sulit saat kembali menginjakkan kaki di Pulau Dewata pasca dipulangkan dari Timtim.

Inus Suci, Nengah Kisit dan puluhan lainnya dulu merupakan peserta transmigran asal Bali yang ditempatkan di Timtim sebelum provinsi ini secara resmi berpisah dari Indonesia pada tahun 1999. Asa mereka menjadi peserta transmigran ke Timtim tidak lain adalah agar mampu merubah taraf hidup menjadi lebih baik. Dengan mengikuti program dari pemerintah ini, mereka mendapatkan jatah masing-masing 2 hektar tanah untuk kebutuhan pemukiman dan tanah pertanian.

Selepas berpisahnya Timtim, pemerintah Indonesia terpaksa memulangkan kembali mereka ke tanah kelahiran di Sumberklampok, meninggalkan rumah dan tanah pertanian yang telah dibangun selama belasan tahun di Cova-Lima, salah satu Kabupaten di Timtim waktu itu.

Awalnya Inus Suci dan kawan-kawan sempat merasa bimbang, janji alokasi tanah dari pemerintah Bali saat kepulangan mereka tak kunjung terealisasi. Kembali ke kampung asal pun dirasa bukan pilihan yang tepat, sebab di sana mereka sudah tidak memiliki tanah lagi untuk ditempati.

Waktu itu, pemerintah daerah Buleleng sempat menawarkan uang tunai sebesar lima juta sembilan ratus ribu rupiah sebagai pengganti 2 hektar tanah mereka di Timtim. Akan tetapi, Kisit dan kawan-kawan menolak. Bagi mereka, mempunyai tanah dan bisa menggarapnya dengan menjadi petani jauh lebih berarti. Kalau uang bisa habis, sedangkan tanah bisa dikelolah untuk anak cucu ke depan,” kisah Kisit mengingat masa-masa sulit itu.

Setelah berusaha dan berjuang kian kemari, keinginan untuk mendapatkan kembali tanah akhirnya tercapai. Pemerintah Buleleng menyediakan tanah untuk bermukim dan bertani di pinggir jalan lintas Buleleng-Gilimanuk, masih berada di daerah Sumberklampok, kampung asal para eks transmigran tersebut.

Inus Suci, Nengah Kisit dan kawan-kawan memulai kembali lembaran baru kehidupan mereka. Menyambung hidup yang sempat tertunda akibat konflik di Timtim. Menggarap dan mengelola tanah yang diberikan Pemda Buleleng sebagai petani. Meski keinginan mereka sudah terwujud, harapan agar bisa segera keluar dari masa-masa sulit itu belum seutuhnya terpenuhi. Sebab, tanah yang disediakan bukan lah tanah pertanian yang sudah lengkap dengan unit perumahan, seperti yang mereka bayangkan. Akan tetapi, kawasan hutan yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar dan semak belukar. Jangankan untuk bertani, jalan setapak pun belum tersedia sama sekali. Mereka benar-benar memulai kembali dari awal. Namun dengan keyakinan dan tekad untuk tetap terus menjadi petani, setahap demi setahap kawasan tersebut berhasil dibuka agar dapat ditinggali dan diolah menjadi lahan pertanian.

Inus Suci bercerita, awal ia menggarap tanah pertanian di bibir hutan tersebut sangatlah sulit. Para petani harus menebas dulu akar-akar pohon dan semak belukar yang memenuhi kawasan. “Tangan saya sampai kapalan semua, seperti kera”, keluh Inus Suci.

Inus menjelaskan, untuk berteduh dan berlindung sementara waktu, ia bersama puluhan lainnya membangun gubuk yang berasal dari bambu dan pelepah yang sudah kering. Gubuk yang dibangun pun alah kadarnya, hanya terdiri dari ruangan depan, dapur dan satu kamar tidur kecil. “Meski jauh dari kata layak, itu semua kami lakukan semata-mata agar tidak kepanasan dan kehujanan,” ungkap Inus dengan lirih.

Setelah proses pembukaan dan pembersihan lahan selesai, mereka mulai menanami tanah tersebut dengan beragam tanaman seperti cabai, jagung, kacang tanah dan gendis. Awalnya, mereka bercocok tanam hanya dengan mengandalkan curah hujan sehingga hasil yang didapat pun belum maksimal, sebab terbatasnya curah hujan membuat mereka hanya mampu panen sekali dalam setahun. Guna menambah penghasilan dari hasil kebun yang tidak seberapa, sebagian besar mereka beternak sapi dan babi.

Seiring berjalannya waktu, Dinas Pertanian Bali memberikan bantuan dengan mendirikan embung agar produksi pertanian mereka lebih meningkat. Akan tetapi embung tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan air keseluruhan tanah seluas 80 hektar tersebut.

Tak patah semangat, untuk mengatasi kebutuhan ini, para petani membangun sumur bor secara swadaya. Harapannya, keberadaan sumur bor tersebut dapat membantu meningkatkan produktivitas lahan agar hasil panen lebih melimpah. Sebab keberadaan embung saja sudah sangat membantu.

Di tengah usaha-usaha itu, para petani ini juga membuat inovasi lain, yakni membuat pupuk organik cair yang berasal dari buah-buahan. Selain untuk menjaga semangat kemandirian dan gotong royong di antara sesama petani, mereka juga menyadari dengan menggunakan pupuk organik tersebut mereka telah berkontribusi menjaga kelestarian tanah dan lingkungan. Ke depan, mereka juga bertekad memasarkan pupuk ini agar mampu menambah pendapatan ekonomi rumah tangga.

Usaha-usaha di atas merupakan jalan eks transmigran ini untuk mencukupi kebutuhan hidup serta dapat menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Mimpi yang selalu tertanam di benak Inus Suci, Nengah Kisit dan kawan-kawan semenjak mereka memulai kehidupan baru di Sumberklampok.

Menunggu Pengakuan, Menagih Janji Negara

Meski sudah bisa bermukim dan bertani, masih ada yang mengganjal di benak Kisit dan kawan-kawan, yakni pengakuan Negara atas tanah dan kampung yang telah mereka bangun. Pasalnya, pemukiman dan tanah pertanian yang saat ini ditempati masih bersatus kawasan hutan. Artinya, mereka belum mendapat pengakuan berupa hak atas tanah dari pemerintah.

Sebenarnya, di Buleleng, konflik agraria tidak hanya dialami oleh para eks transmigran. Situasi serupa juga dihadapi petani di Sendang Pasir dan Sumber Kima. Menyadari bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, para petani ini meleburkan masing-masing kelompok tani mereka ke dalam wadah yang lebih besar dengan mendirikan Serikat Petani Buleleng (SPB), yang menjadi salah satu serikat tani anggota KPA. Gagasan pendirian ini juga didorong oleh KPA sebagai induk organisasi di nasional.

“Kami tidak akan tinggal diam dan akan terus memperjuangkan hak atas tanah ini,” tegas Kisit.

Ia meyakini, usaha dan inovasi-inovasi yang telah mereka lahirkan merupakan bentuk dari perjuangan mereka.

Mendirikan SPB merupakan bagian dari semua perjuangan itu, sebab mereka yakin hanya dengan menyatukan kekuatan para petani yang tengah berjuang, peluang mereka untuk mendapatkan hak atas tanah semakin membesar.

Melalui serikat ini, kekuatan kami semakin besar untuk mendorong pemerintah agar segera menyelesaikan konflik yang kami hadapi,” kata Kisit.

Para eks transmigran ini sebenarnya telah sejak lama meminta penyelesaian status tanah mereka kepada pemerintah. Melalui KPA, mereka telah mengusulkan tanah garapan tersebut kepada pemerintah sebagai salah satu Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA). LPRA merupakan pendekatan reforma agraria dari bawah yang digagas KPA bersama serikat/organisasi anggota yang didorong kepada pemerintah. Pada Rapat Terbatas (Ratas) penyelesaian konflik agraria yang digelar di Istana Negara akhir tahun lalu, Sumberklampok masuk ke dalam 54 lokasi prioritas yang akan diseleaikan tahun 2021 ini.

Kini, asa untuk mendapatkan hak atas tanah semakin membesar di benak Kisit. Kisit merasa dengan berbagai usaha dan perjuangan yang telah dilakukan, sudah seharusnya pemerintah memberikan pengakuan hak atas tanah yang telah mereka garap selama puluhan tahun. Sejalan dengan mandat Perpres No. 86/2018 tentang Reforma Agraria.

________________________

Ini adalah naskah kedua dari liputan khusus perjuangan hak atas tanah eks transmigran Timor-Timur asal Sumberklampok, Buleleng, Bali. Sebelumnya, KPA menerbitkan naskah berjudul “Timbul Tenggelam Asa Hak Atas Tanah Eks Transmigran Timor-Timur.

 

 

 

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934