Majalengka – Dua orang warga desa Sukamulya hari ini, Selasa (6/9) mendatangi kantor Polisi Resort (Polres) Majalengka terkait panggilan atas tuduhan penganiayaan terhadap pekerja “rumah hantu” yang terjadi beberapa waktu lalu di Desa Sukamulya.

Agus dan Rahman mendatangi Polres Majalengka ditemani oleh Kepala Desa Sukamulya Nono Darsono atau yang biasa dipanggil Kuwu dan beberapa warga yang ikut mendampingi. Kejadian ini berawal ketika para pekerja melanjutkan proses pembangunan “rumah hantu” di Desa Sukamulya pada tanggal 24 Agustus yang lalu.

Sempat terjadi aksi saling dorong waktu itu antara warga dengan pekerja yang melarang melanjutkan proses pembangunan tersebut. Setelah kejadian itu, Rahman dan Agus dipanggil oleh pihak kepolisan resort Majalengka atas laporan tuduhan penganiayaan. Mereka dilaporkan oleh dua orang pekerja, Caskiyah dan Rasmin.

Keganjilan mulai terlihat ketika dalam proses BAP mereka berdua tidak meyebutkan nama Rasman dan Agus sebagai pihak yang memukul mereka. Dalam pengakuannya, Caskiyah dan Rasmin malah mengaku tidak tahu siapa yang memukul mereka.

Dari pendekatan yang dilakukan beberapa warga Sukamulya kepada Caskiyah dan Rasmin muncul pengakuan bahwa pada awalnya mereka tidak merasa dipukul waktu peristiwa tersebut. Namun, karena adanya provokasi dan hasutan dari salah seorang warga yang pro dengan pembangunan Bandara, akhirnya mereka melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian Polres Majalengka.

Saat ini, sedang berlangsung mediasi antara pelapor dan terlapor di Polres Majalengka yang ditengahi oleh Kasatreskrim Polres Majalengka. Proses mediasi ini juga dihadiri oleh Pak Kuwu (red; kepala desa) Bona dan beberapa orang perangkat Desa.

Dari laporan tim KPA di lokasi terakhir, agenda dari dua pihak hari ini datang ke Polres Majalengka adalah untuk mencabut laporan karna sudah tercapai kesepakatan damai diantara mereka.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi gerakan Reforma Agraria terutama warga desa Sukamulya yang sedang berjuang mempertahankan tanah mereka dari rampasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Bahwa proses-proses kriminalisasi rentan terjadi di wilayah-wilayah konflik agraria. strategi kriminalisasi ini bertujuan untuk melemahkan gerakan rakyat yang sedang berjuang mempertahankan tanah mereka dari rampasan pihak-pihak kepentingan seperti pemerintah dan para pengembang.

" /> KPA - Konsorium Pembaruan Agraria

Kriminalisasi Warga Sukamulya : Strategi Penguasa Melemahkan Gerakan Reforma Agraria

Majalengka – Dua orang warga desa Sukamulya hari ini, Selasa (6/9) mendatangi kantor Polisi Resort (Polres) Majalengka terkait panggilan atas tuduhan penganiayaan terhadap pekerja “rumah hantu” yang terjadi beberapa waktu lalu di Desa Sukamulya.

Agus dan Rahman mendatangi Polres Majalengka ditemani oleh Kepala Desa Sukamulya Nono Darsono atau yang biasa dipanggil Kuwu dan beberapa warga yang ikut mendampingi. Kejadian ini berawal ketika para pekerja melanjutkan proses pembangunan “rumah hantu” di Desa Sukamulya pada tanggal 24 Agustus yang lalu.

Sempat terjadi aksi saling dorong waktu itu antara warga dengan pekerja yang melarang melanjutkan proses pembangunan tersebut. Setelah kejadian itu, Rahman dan Agus dipanggil oleh pihak kepolisan resort Majalengka atas laporan tuduhan penganiayaan. Mereka dilaporkan oleh dua orang pekerja, Caskiyah dan Rasmin.

Keganjilan mulai terlihat ketika dalam proses BAP mereka berdua tidak meyebutkan nama Rasman dan Agus sebagai pihak yang memukul mereka. Dalam pengakuannya, Caskiyah dan Rasmin malah mengaku tidak tahu siapa yang memukul mereka.

Dari pendekatan yang dilakukan beberapa warga Sukamulya kepada Caskiyah dan Rasmin muncul pengakuan bahwa pada awalnya mereka tidak merasa dipukul waktu peristiwa tersebut. Namun, karena adanya provokasi dan hasutan dari salah seorang warga yang pro dengan pembangunan Bandara, akhirnya mereka melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian Polres Majalengka.

Saat ini, sedang berlangsung mediasi antara pelapor dan terlapor di Polres Majalengka yang ditengahi oleh Kasatreskrim Polres Majalengka. Proses mediasi ini juga dihadiri oleh Pak Kuwu (red; kepala desa) Bona dan beberapa orang perangkat Desa.

Dari laporan tim KPA di lokasi terakhir, agenda dari dua pihak hari ini datang ke Polres Majalengka adalah untuk mencabut laporan karna sudah tercapai kesepakatan damai diantara mereka.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi gerakan Reforma Agraria terutama warga desa Sukamulya yang sedang berjuang mempertahankan tanah mereka dari rampasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Bahwa proses-proses kriminalisasi rentan terjadi di wilayah-wilayah konflik agraria. strategi kriminalisasi ini bertujuan untuk melemahkan gerakan rakyat yang sedang berjuang mempertahankan tanah mereka dari rampasan pihak-pihak kepentingan seperti pemerintah dan para pengembang.

Berita Lainnya

Peristiwa

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934