Langkat (kpa.or.id) - Tempatnya tidak istimewa, hanya rumah sederhana berdindingkan papan di sekeliling bangunan. Menjelang maghrib rumah itu mendadak ramai. Ya, rumah tersebut merupakan tempat belajar mengaji bagi anak-anak di Kampong Secanggang yang digelar secara rutin dari Senin hingga Sabtu.

Adalah Nurul, perempuan dari Kampong Secanggang yang pertama kali menggagas Taman Pendidikan Al qur’an (TPA) tersebut. Dia mengisahkan ihwal pembukaan TPA di rumahnya. Ia mengaku khawatir dan prihatin melihat keadaan anak-anak yang setiap hari harus berangkat ke kampong sebelah untuk belajar mengaji dengan berjalan kaki melintasi wilayah perkebunan tanpa adanya penerangan yang memadai.

‘’Awalnya muridnya hanya tiga, anakku sendiri dan anak-anak tetangga. Lama-kelamaan, satu-persatu para orang tua mulai menitipkan anaknya di rumah ini untuk belajar ngaji”, tutur Nurul.

Dengan bertambahnya murid, Nurul merasa perlu menambah fasilitas supaya kegiatan belajar mengaji menjadi lebih fokus dan lancar meski di tengah keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi. Namun Nurul tak patah arang, tripleks bekas yang dihibahkan tetangganya dicat hitam dan disulap menjadi papan tulis. Sementara para murid membawa kapur tulis dari rumah mereka masing-masing.

Perlahan, masyarakat Kampong Secanggang bergotong-royong membantu Nurul mengembangkan TPA tersebut. Papan tulis diganti dengan yang lebih baik dan juga sudah tersedia beberapa meja kecil. Bahan bacaan untuk anak-anak pun sudah ada walaupun tidak banyak. .

Saat ini, sudah 15 anak yang rutin mengaji tiap sorenya di TPA tempat kediaman Nurul.

Dalam pelatihan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, masyarakat sepakat mengembangkan TPA tersebut. Nilai-nilai masyarakat adat rakyat penunggu menjadi salah satu pelajaran yang akan dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran.

Anak-anak juga didorong belajar pertanian agroekologi untuk membangun ikatan emosional mereka dengan tanah kampongnya.

Para pengurus kampong juga telah memikirkan dukungan atau sumbangsih terhadap para pengajar dari hasil pertanian kolektif.

“Kalau bukan kita sendiri yang memajukan kampong ini, terus siapa lagi ?”, ungkap Nurul penuh harapan. (FS)

 

 

 

" /> KPA - Konsorium Pembaruan Agraria

Anak-anak Secanggang, dari Belajar Ngaji Hingga Pertanian Agroekologi

Fachrizal Sinaga

Langkat (kpa.or.id) - Tempatnya tidak istimewa, hanya rumah sederhana berdindingkan papan di sekeliling bangunan. Menjelang maghrib rumah itu mendadak ramai. Ya, rumah tersebut merupakan tempat belajar mengaji bagi anak-anak di Kampong Secanggang yang digelar secara rutin dari Senin hingga Sabtu.

Adalah Nurul, perempuan dari Kampong Secanggang yang pertama kali menggagas Taman Pendidikan Al qur’an (TPA) tersebut. Dia mengisahkan ihwal pembukaan TPA di rumahnya. Ia mengaku khawatir dan prihatin melihat keadaan anak-anak yang setiap hari harus berangkat ke kampong sebelah untuk belajar mengaji dengan berjalan kaki melintasi wilayah perkebunan tanpa adanya penerangan yang memadai.

‘’Awalnya muridnya hanya tiga, anakku sendiri dan anak-anak tetangga. Lama-kelamaan, satu-persatu para orang tua mulai menitipkan anaknya di rumah ini untuk belajar ngaji”, tutur Nurul.

Dengan bertambahnya murid, Nurul merasa perlu menambah fasilitas supaya kegiatan belajar mengaji menjadi lebih fokus dan lancar meski di tengah keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi. Namun Nurul tak patah arang, tripleks bekas yang dihibahkan tetangganya dicat hitam dan disulap menjadi papan tulis. Sementara para murid membawa kapur tulis dari rumah mereka masing-masing.

Perlahan, masyarakat Kampong Secanggang bergotong-royong membantu Nurul mengembangkan TPA tersebut. Papan tulis diganti dengan yang lebih baik dan juga sudah tersedia beberapa meja kecil. Bahan bacaan untuk anak-anak pun sudah ada walaupun tidak banyak. .

Saat ini, sudah 15 anak yang rutin mengaji tiap sorenya di TPA tempat kediaman Nurul.

Dalam pelatihan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, masyarakat sepakat mengembangkan TPA tersebut. Nilai-nilai masyarakat adat rakyat penunggu menjadi salah satu pelajaran yang akan dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran.

Anak-anak juga didorong belajar pertanian agroekologi untuk membangun ikatan emosional mereka dengan tanah kampongnya.

Para pengurus kampong juga telah memikirkan dukungan atau sumbangsih terhadap para pengajar dari hasil pertanian kolektif.

“Kalau bukan kita sendiri yang memajukan kampong ini, terus siapa lagi ?”, ungkap Nurul penuh harapan. (FS)

 

 

 

Berita Lainnya

Peristiwa

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934