Juni 2016: Kriminalisasi Petani dan Aktivis Masih Berlanjut

Juni 2016: Kriminalisasi Petani dan Aktivis Masih Berlanjut

Bulan Suci ini ternyata tidak menyurutkan langkah aparat pemerintah (red. Kepolisian) untuk melakukan makar di negerinya sendiri. Laporan-laporan terjadinya kriminalisasi, kekerasan dan brutalitas yang dilakukan oleh aparat tidak juga surut.

Peristiwa kekerasan dan brutalitas aparat baru-baru ini adalah peristiwa penembakan warga saat aksi penolakan tambang di Bengkulu, Senin (11/6) kemarin. Brutalitas aparat tersebut terjadi ketika warga sedang melakukan aksi di lokasi PT. Cipta Buana Seraya (CBS) dengan melibatkan kurang lebih 500 orang. Sedikitnya, terdapat 10 korban penembakan dan luka-luka;

  1. Martadinata; ditembak di perut bagian atas (maaf) tembus ke belakang (dibawa ke RS M.Yunus dan operasi)
  2. Indra jaya, ditembak dipangkal paha sebelah kiri, berobat sendiri
  3. Dahir; luka tembak di punggung, berobat sendiri
  4. Put; cidera karena ditembak di sendi paha kanan, berobat sendiri
  5. Jaya, luka tembak di kaki kanan, berobat sendiri
  6. Saiful, luka tembak di dada kiri (peluru karet), berobat sendiri
  7. Yudi, luka tembak bahu kiri (dibawa RS Umum Daerah)
  8. Alimuan,luka tembak dilengan menyebabkan patah tulang pada lengan kanan bawah (dibawa ke RS M. Yunus)
  9. Badrin,luka tembak di leher bawah dan paha kiri (dibawa ke RS M.Yunus)
  10. Ade, bengkak dan memar dipukul dipelipis mata.

Kabar terbaru dari brutalitas polisi terakhir pasca peristiwa kekerasan kemarin di Desa Susup, Bengkulu adalah upaya kriminalisasi terhadap Yasman (50 Tahun), Rabu (15/6). Aparat kepolisian datang menggunakan 7 mobil. Yasman ditangkap di rumah, di depan keluarganya dengan cara paksa dan pintu rumahnya didobrak. Keluarga Yasman juga ditodong senjata di dada dan kepala yang secara langsung pastinya akan berdampak secara psikis.

Polisi juga sempat menembakan senjata ke udara sebelum pergi untuk menghalau masyarakat yang berkumpul di depan rumah Yasman. Masyarakat ketakutan dan berkumpul, setelah mendengar tembakan polisi.

Di tempat lain, KPA juga menerima laporan adanya kriminalisasi terhadap masyarakat yang memperjuangkan hak-hak atas tanahnya. Dua kasus diantaranya adalah; Kasus Kriminalisasi terhadap Awang Ringga, Masyarakat Adat Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI); dan juga Hotman Siagian, Parlindungan Siagian dan Parasian Siagian, Masyarakat Adat Tano Batak. Kedua kasus tadi terjadi di Provinsi Sumatera Utara.

Kedua kasus tersebut adalah penerima manfaat Dana Darurat Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA). Dana Darurat tadi dipergunakan untuk keperluan bantuan hukum korban kriminalisasi, investigasi kasus dan juga bantuan lumpsump terhadap keluarga korban bergantung pada situasi dan kondisi setiap kasusnya.

Hingga saat ini sedikitnya, terdapat 9 kasus kriminalisasi ataupun perampasan tanah yang sudah menjadi penerima manfaat dari Dana Darurat KNPA sejak diluncurkan pertengahan April  yang lalu.

 

 

Berita Lainnya

Peristiwa

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934