Sampai di Merak, Petani Mencirim dan Simalingkar Disambut Gerakan Tani, Buruh dan Mahasiswa Banten

Cilegon (kpa.or.id) - Kami tidak akan pulang sebelum mendapat kepastian atas tanah! Kembalikan tanah kami! Kembalikan sumber penghidupan kami! Yel-yel tersebut terus terdengar bersahut-sahutan kala rombongan petani Sei. Mencirim dan Simalingkar turun dari dek kapal di pelabuhan Merak. Malam itu, Senin, 3 Agustus 2020 sekitar pukul 23.00 WIB, mereka akhirnya menginjakkan kaki di tanah Jawa setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara menuju Jakarta.

Artinya, setengah perjalanan lebih sudah mereka lalui untuk menuju Istana Negara, tempat mereka mengadukan PTPN II ke Presiden Jokowi, perusahaan perkebunan negara yang telah meratakan kampung dan menggusur tanah-tanah mereka di Deli Serdang.

Sesampainya di pelabuhan, 150 rombongan petani ini langsung disambut oleh perwakilan gerakan tani, buruh dan mahasiwa, yakni Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Pergerakan Petani Banten (P2B), Konfederasi KASBI, Serikat Mahasiswa Sosialis Demokratik (SWOT), Aliansi Mahasiswa Cilegon (AMC), PMII Cilegon dan PMII Serang.

Abay Haetami, Ketua Pergerakan Petani Banten (P2B) mengatakan penyambutan ini sebagai bentuk dukungan penuh petani Banten terhadap petani Sei. Mencirim dan Simalingkar yang tengah memperjuangkan keadilan dan hak atas tanah mereka.

Kami sangat terharu dengan perjuangan kawan-kawan, rela melakukan jalan kaki siang-malam sejauh ribuan kilometer untuk memperjuangkan hak atas tanah mereka. Ini harus dimaknai sebagai semangat baru bagi gerakan tani di Indonesia, terutama bagi petani-petani yang masih memperjuangkan hak atas tanah mereka saat ini, seperti P2B,” tutup Abay.

Syamsudin, Kepala Departemen Penguatan Organisasi KPA yang hadir dalam penyambutan secara tegas menuntut pemerintah segera menyelesaikan konflik agraria antara petani Sei. Mencirim dan Simalingkar yang berkonflik dengan PTPN II.

Kami mengingatkan lagi pemerintah untuk segera melepaskan klaim PTPN II atas tanah-tanah petani di Sei. Mencirim dan Simalingkar dan segera menyelesaikan konflik-konflik agraria yang masih banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia,” tutup Syamsudin.

Terhitung telah 40 hari para petani Sei. Mencirim dan Simalingkar berada di perjalanan. Memulai aksi jalan kaki dari Sumatra Utara pada tanggal 24 Juni 2020 hingga akhirnya tiba di Banten, provinsi terakhir yang akan mereka lewati sebelum menuju Istana Negara di Jakarta.

Selama di perjalaan dari pelabuhan menuju tempat istirahat, rombongan petani ini tidak henti-henti menyanyikan yel-yel perjuangan. Pertanda ribuan kilometer jarak yang telah ditempuh tidak mengurangi semangat mereka untuk memperjuangkan tanah-tanah yang telah dirampas perusahaan negara.

Sepanjang jalan, banyak warga yang tergerak memberikan air, makanan serta memanjatkan do’a, terharu atas perjuangan yang telah dilakukan oleh para petani.

Mereka beristirahat di Gedung Cilegon Creative Centre yang terletak di jalan Tjik Die Tiro, Kedaleman, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, yang bisa ditempuh 2-3 jam perjalanan kaki dari pelabuhan.

Pagi ini, Selasa, 4 Agustus 2020, pukul 10.00 WIB para petani akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Serang, pemberhentian berikutnya sebelum sampai di Jakarta.

Berita Lainnya

Peristiwa

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934