Sang Guru Pengamal Konsistensi

Kesaksian Konsorsium Pembaruan Agraria Atas Gunawan Wiradi

Perawakannya mungil tidak mencerminkan gagasan besar yang dimilikinya. Kesantunannya bersikap tidak mengurangi keteguhannya dalam prinsip. “Dengan terus mengalir ke lautan, sungai tetap setia pada sumbernya”. Ungkapan ini kerap diucapkan Gunawan Wiradi yang mengajarkan untuk selalu konsisten berjuang. Dengan menggunakan simbolisasi air, ia seolah mengingatkan: keluwesan semacam apapun tetaplah diabdikan kepada kesetiaan ajaran dan tujuannya.

GWR –begitu beliau akrab disapa, seorang pejuang lintas generasi yang tahu menghargai para pemula. Dalam memberikan gagasan atau pandangan atas situasi yang ada, GWR seringkali menyampaikan bahwa setiap zaman mempunyai anak zamannya sendiri. Ini sebuah pandangan demokratis untuk bisa memahami pandangan dan sikap yang lebih muda sekaligus memberikan pikiran yang lebih luas dan mendalam. Pandangan tersebut menginspirasi generasi Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan aktivis gerakan reforma agraria untuk terus dan tetap setia berjuang mewujudkan reforma agraria sejati.

Jejak dan Langkah

Kehidupan pribadi GWR yang penuh misteri menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Represifitas rezim penguasa di masa lampau yang berimbas pada kehidupan pribadi beliau menjadi catatan yang sulit dihapus. Kami banyak belajar dari perjalanan dan pergulatan pemikiran serta kehidupan GWR sejak rentang masa kolonial Belanda hingga hari ini.

Gunawan Wiradi, lahir 28 Agustus 1932 di Solo, Jawa Tengah. Putera bungsu dari pasangan R. Pujo Sastrosupodo dan R.A Sumirah. Setelah menamatkan sekolah menengah, GWR melanjutkan kuliah di IPB pada tahun 1953. Sambil bekerja, akhirnya menamatkan kuliah dan berkiprah sebagai dosen IPB pada tahun 1963. Sejak mahasiswa, GWR muda aktif memberikan pemikiran dan tenaganya dalam berbagai forum nasional hingga internasional. Salah satunya pada tahun 1956 beliau aktif menjadi Pimpinan Seksi dalam Panitia Persiapan Nasional Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika di Bandung. Semasa mahasiswa, GWR adalah Ketua Panitia untuk seminar yang membahas tentang Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) di IPB. Karena itu, ikatan batin untuk memperjuangkan realisasi UUPA terus menggelora dalam pemikirannya.

Pada tahun 1965 aktivitas beliau di dunia akademisi dinonaktifkan karena mendukung ajaran Bung Karno. Walau demikian, GWR tidak menyerah. Ia terus menjadi pelita bagi sekumpulan anak-anak muda aktivis, peneliti, dan akademisi. Kiprahnya yang luas dalam dunia ilmu pengetahuan akhirnya mendapatkan pengakuan dari almamaternya. Pada tahun 2009 GWR mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari IPB.

GWR banyak terlibat dalam berbagai organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu-isu agraria dan pedesaan. Sosoknya dihormati di kalangan akademisi, disegani kalangan pemerintah. Generasi muda takzim mendengarkan kisah dan pandangannya, tanpa merasa digurui, dan terinspirasi. Gerakan tani selalu menunggu “siraman” semangat juangnya. Mencerminkan bahwa sosok GWR adalah Guru bagi banyak kalangan dan generasi.

Guru Utama Reforma Agraria

Reforma agraria ialah ajaran utama yang beliau pegang teguh dari zaman ke zaman. Kepiawaiannya dalam menuliskan konsep-konsep reforma agraria ke dalam balutan bahasa yang mudah dicerna. Tebaran gagasan selalu mengalir orisinal, dilandasi teori yang kuat, analisis tajam dan berujung kesimpulan yang lugas.

Melalui pengabdian yang tak kenal batas, beliau terus menyebarkan gagasannya, hingga mampu mempengaruhi dinamika kebijakan dan gerakan reforma agraria di Indonesia. Akhir 1980-an ikut mencetus gagasan yang menjadi cikal bakal gerakan sosial yang memperjuangkan reforma agraria. Sejak inisiasi awal hingga kelahiran KPA 24 tahun silam (1994), GWR adalah sosok yang berperan besar dalam menanamkan visi, nilai dan prinsip reforma agraria sejati sebagai pondasi perjuangan organisasi. Hingga saat ini, GWR sebagai Anggota Majelis Pakar KPA terus terlibat dalam menjaga dinamika organisasi.

Gagasan Agrarian Reform by Leverage (ARBL) merupakan salah satu gagasan penting beliau yang menjadi ajaran utama KPA. Gagasan ini merupakan refleksi atas pelaksanaan reforma agraria di berbagai negara. Mengingat pelaksanaan reforma agraria sejati harus bermula dari kekuatan rakyat melalui organisasi-organisasi tani yang progresif dan mandiri. Sekaligus, sebagai kesadaran melihat kondisi obyektif yang ada saat ini di Indonesia, yang belum memungkinkan reforma agraria sejati dipimpin langsung oleh Negara. Salah satu sumber pemikiran ARBL berasal dari skripsinya yang membahas implementasi reforma agraria dari inisiatif masyarakat di sebuah desa di Jawa Tengah. Sambil terus memastikan reforma agraria sebagai agenda politik bangsa, bagi GWR, keadilan agraria hanya bisa diwujudkan oleh kekuatan rakyat sejati. Berjuang untuk rakyat dan bersama kaum paling lemah terus ditularkan. GWR mengamalkan konsistensi.

GWR adalah guru penuh wibawa sekaligus sahabat hangat kami yang lebih muda. Pendengar sejati. Tempat kami bercermin sekaligus menimba ilmu. Cadangan ceritanya tak pernah habis. Kaya kisah dan jenaka. Selalu ada yang baru dan penuh makna. Beliau selalu mementingkan berpikir kritis, berani walau berbeda, namun bertindak lentur. Ibarat air sungai meliuk-liuk menuju samudera luas. Air mengalir setia pada sumbernya.

Ia sosok guru yang kuat dan inspiratif dalam menjaga konsistensi perjuangan organisasi, termasuk dalam mendidik kader-kader KPA. Dalam suatu kesempatan GWR memberikan nasihat: “Setidaknya aktivis agraria harus memiliki tiga hal: ilmu pengetahuan, keberanian dan yang terpenting adalah keikhlasan”, ucap beliau. Tanpa ketiga hal itu seorang aktivis agraria dalam perjuangannya akan mudah diintimidasi dan “dibeli”.

GWR meyakini perjuangan reforma agraria memerlukan ‘generasi vokasional’, yang teguh pendiriannya. Keikhlasan dan keteguhan berjuang ini bukan hanya untuk membentengi diri, tapi penting untuk memberikan semangat bagi mereka yang harapannya hampir hilang, mengingat reforma agraria adalah perjalanan panjang. Pemikirannya tentang bergerak karena ‘panggilan jiwa’ menjadi pelita yang terus meneguhkan perjuangan KPA dan serikat-serikat petani dalam mewujudkan reforma agraria sejati. Secara konsisten GWR terus-menerus meluruskan makna reforma agraria di tengah banyak upaya mereduksi atau melencengkannya.

Kami generasi muda KPA yang meminati, sekaligus meyakini reforma agraria sebagai ideologi gerakan sosial merasa beruntung mengenal sosok GWR secara langsung. Bersama Sediono Tjondronegoro, Maria Roewiastoeti, dkk, GWR setia ber-KPA. Hal ini membahagiakan dan amat berharga.

Kini Gunawan Wiradi sudah memasuki usia 86 tahun, suatu usia yang kita tak tahu apakah kita akan pernah mengalaminya. Prinsipnya tak berubah diterpa zaman dan tak lekang oleh waktu. Semangat muda selalu melekat pada GWR. Menjaga hidup penuh semangat, kritis terhadap situasi, berani memaknai kondisi, dan konsisten dalam prinsip adalah ilmu hidup yang terus ditaburkan Sang Guru.

Kiranya Tuhan yang maha penyayang selalu melimpahkan berkah sehat dan baluran kasih sayang yang deras untuk Guru kami.

Jakarta, 1 September 2018

 

Dewi Kartika

Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria

 

"Tulisan ini dikhususkan sebagai testimoni KPA atas refleksi 86 tahu perjalanan hidup Bapak Gunawan Wiradi dengan tema "Kristalisasi 86 Tahun Perjalanan Hidup Gunawan Wiradi dalam Perjuangan Reforma Agraria di Indonesia", yang diselenggarakan Rabu, 5 September 2018."

 

Opini Lainnya..

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934