Pembelaan Pribadi Ujang bin Sanhari, Korban Kriminalisasi Perhutani dan UU P3H

Bismillahirromanirrhohim,
Kalayan nyebat asma nu maha agung

Dengan menyebut Nama-Mu, wahai Engkau Yang Maha Agung, Maha Berkuasa, Maha Menundukkan, Maha Menghinakan, dan Maha Memuliakan.

Majelis Hakim Yang Terhormat,
Bapak Ibu Jaksa dan Persidangan yang Mulia

Ketika bencana longsor menimpa beberapa desa di Kuningan Timur pada Februari 2018, tidak ada yang dapat kami lakukan selain bergegas menyelamatkan diri, mencari tempat bernaung sementara, menghindari petaka yang lebih besar. Kami menepi dari segala kesibukan. Selama beberapa waktu kami menepi, kami mengungsi. Selama beberapa hari kami berhenti bekerja. Kami hentikan segala aktivitas sehari-hari. Seluruh perhatian, tenaga, dan harta yang tak seberapa kami curahkan untuk menyelamatkan diri dan keluarga. Apa yang bisa kami lakukan hanya meminta, memanjatkan do’a dan permohonan kepada Yang Maha kuasa agar dihindarkan dari segala malapetaka. Selalu begitu, setiap kali bencana melanda, banjir bandang atau tanah longsor, kami bergegas berlari, mencari tempat untuk selamatkan diri. Kami mengungsi beberapa hari hingga keadaan benar-benar tenang dan amuk alam kembali reda.

Setiap kali bencana terjadi, kami mengungsi, mencari tempat yang lebih nyaman dan lebih aman. Kadang selama berhari-hari kami bermalam di tenda-tenda yang didirikan di tanah lapang, sedangkan istri dan anak-anak kami tidur, makan, bermain, dan melakukan semua aktivitas keseharian di gedung-gedung sekolah, atau di balai desa, yang kami pikir akan terhindar dari bencana susulan.

Majelis Hakim Yang Terhormat,
Bapak Ibu Jaksa dan Persidangan yang Mulia

Saya hanyalah seorang petani kecil. Bahkan, bisa dikatakan seperti kebanyakan warga desa kami, sesungguhnya kami bukanlah petani, karena tanah yang kami miliki tak berarti. Lebih tepat jika dikatakan bahwa orang-orang seperti saya ini adalah buruh tani. Kami tak memiliki penghasilan tetap. Kadang-kadang jika tak ada yang mempekerjakan, selama beberapa hari kami tak dapatkan apa-apa. Meski demikian, selama ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun kami dan leluhur kami bertahan hidup di sana, di Desa Cipedes, di pinggiran hutan yang kini dikuasai Perhutani.

Sungguh, seperti kebanyakan manusia lain, kami ingin memiliki rumah yang nyaman, dengan bangunan yang kokoh, atau jika mungkin, rumah yang megah, dengan halaman yang luas, agar bisa menjadi tempat istirahat yang tenang dan damai, agar kami tak lagi khawatirkan bencana yang setiap saat mungkin menimpa. Tetapi lagi-lagi, kami hanyalah buruh tani, karena sebagian besar lahan telah dikuasai Perhutani.

Majelis Hakim Yang Terhormat,
Bapak Ibu Jaksa dan Persidangan yang Mulia

Beberapa hari setelah bencana terjadi pada bulan Februari, Abah, mertua saya, mengajak saya berbicara. Ia bilang, terlintas keinginan untuk membangun rumah sederhana atau lebih tepat saung di kawasan sawah yang lebih aman dari kemungkinan bencana longsor. Menurutnya, saung itu bisa dipergunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi kami sekeluarga jika bencana terjadi. Saung itu bisa menjadi tempat pengungsian yang aman dari longsoran sekaligus lebih dekat ke sawah, tempat kami mencari rezeki.

Berhari-hari lamanya saya memikirkan omongan Abah. Hari demi hari berlalu, saya mencoba melupakan usulannya, karena tak pernah bisa membayangkan, dari mana dapatkan uang untuk membangun saung kecil, tempat kami mengungsi. Minggu demi minggu, hingga lewat beberapa bulan, usulannya itu sesekali datang kembali, mengusik pikiran saya. Lalu saya teringat pada pohon-pohon yang puluhan tahun silam kami tanam, kami rawat, dan kami jaga bersama. Saya merasa, saya punya hak dari popohonan itu meskipun tanah tempat kami memanamnya di bawah kuasa Perhutani.

Saya pun memendam keinginan dan menunggu sampai ada kesempatan. Dan kesempatan itu tiba ketika mentri lapangan Apep meminta income kemudian menjanjikan pohon sebagai ganti jika sanggup memberikan income, meskipun pada tahun 2018 tidak ada yang bisa digarap dihutan karena awal tahun tersebut terjadi longsor. Karena janji tersebut saya menyanggupi membayarnya, terdesak karena pengamanan keluarga ke depan jika terjadi bencana-bencana longsor di tahun berikutnya. Saya mengungkapkan secara detail maksud saya, saya hanya ingin menebang untuk membangun saung, tempat kami bernaung dan dengan sepengetahuan Sang Mantri, saya menebang sebelas pohon.

Lalu terjadilah apa yang terjadi. Saya, Ujang bin Sanhari, yang puluhan tahun silam menyiapkan benih pohon, menanamnya di lahan garapan kami, sebagaimana tertulis dalam kontrak kerja sama, merawatnya hari demi hari, menyianginya, memberinya pupuk yang saya beli dengan uang sendiri, lalu saya menebang pohon itu demi membangun sebuah saung tempat kami mengungsi dan kini saya harus mendekam di balik jeruji. Sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun silam, hutan itu milik semua, milik leluhur kami. Siapa saja bisa mengelola lahan hutan itu. siapa saja bisa menanam dan memanfaatkan hasilnya demi kelangsungan hidup kami.

Lalu, ketika negeri ini berdiri, puluhan tahun sejak negeri ini merdeka, penguasa menetapkan, tanah di sekitar kami itu adalah milik Perhutani. Kami tak lagi miliki kuasa atas hutan di sekitar kami. Tak ada lagi kebebasan bagi kami untuk menanam apa yang penting bagi kami. Tak ada lagi kebebasan bagi kami untuk mengambil apa yang bermanfaat bagi kami. Sepenuhnya kami ridho, kami menerima keputusan penguasa negeri. Tetapi tahun demi tahun berlalu, kami tak lagi mendapatkan manfaat dari lahan dan hutan yang ada sekitar kami. Selama ini, kami memelihara dan merawat pohon-pohon yang kami tanam tanpa bantuan dari Perhutani. Meskipun Perhutani tak pernah memberi kami upah untuk merawat pepohonan yang mereka klaim sebagai milik mereka, dalam satu tahun, kami selalu diminta uang yang besaranya satu juta dua ratus bahkan bisa lebih, kami menyebutnya income karena penyebutan mentri lapangan begitu sebagai bagian dari biaya sewa tanah dan hasil tanaman tumpangsari. Kami ikhlas meskipun harapan-harapan mendapatkan upah selalu sirna dari tahun ke tahun dan yang kami dapatkan hanya kaos. Bayangkan, apa yang bisa Tuan-tuan dapatkan dari uang Income pertahun itu?

Ya, sebagaimana ditetapkan dalam kontrak kerja sama, kami akan mendapatkan bagian dari setiap pohon yang nanti ditebang dan dipanen. Tetapi, tolong Bapak dan Ibu perhatikan, dengan seluruh jerih payah yang kami lakukan, kami dijanjikan bagian 25%, hanya seperempat dari hasil penjualan kayu-kayu tersebut. Hanya 25%. Sisanya, yang 75%, semuanya untuk Perhutani. Kami yang menanam, kami yang merawat, kami yang menjaganya, dan mereka yang mendapatkan bagian yang paling besar. Apa yang mereka lakukan untuk pohon-pohon itu selain mencatat, mendata, mencatat, mendata. Memang sesekali ada polisi hutan yang berkeliling, tetapi kamilah yang setiap saat, siang dan malam menjaganya agar pohon-pohon itu tumbuh subur, kokoh, dan kelak dipanen dan hasilnya dinikmati Perhutani.

Kini, saya mendekam di balik jeruji, dan Jika Bapak Ibu Hakim yang mulia memutuskan bahwa saya telah mencuri pohon yang saya tanam sendiri, menebang pohon yang saya rawat sendiri, saya kembali akan mendekam di balik jeruji.

Selama tiga bulan lebih lamanya saya berbaring di ruangan yang sempit karena saya menebang pohon yang akan saya pergunakan untuk membuat saung tempat kami mengungsi, bukan untuk dikomersialisasi. Saya hanya ingin Abah dan keluarganya punya tempat yang lebih nyaman untuk mengungsi. Saya hanya ingin Abah dan mungkin juga keluarga saya punya tempat yang lebih aman dari bencana, tetapi keinginan itu membuat saya mendekam di dalam penjara.

Mungkin Bapak Ibu yang mulia berujar dalam hati, kenapa kami tak menghindar, mengapa kami tak pergi meninggalkan desa kami, meninggalkan rumah kami, meninggalkan semua yang kami miliki lalu menetap di tempat yang lebih aman, di rumah yang lebih kokoh, di negeri yang lebih tenang dan jauh dari bencana?

Semua pikiran dan komentar seperti itu setiap saat menyesaki pikiran kami. Demi Allah, kami ingin tidur lebih tenang, istirahat lebih nyaman, dan bekerja lebih enak tanpa perlu lagi merisaukan bencana yang setiap saat mungkin terjadi. Tetapi kami tak memiliki daya. Kami tak memiliki kuasa,  kami tak punya kekuatan untuk hijrah, beranjak pergi meninggalkan negeri  dan kampung halaman yang menjadi tumpah darah kami. Leluhur kami terkubur di sana, kenangan kami melekat dan likat bercampur tanah. Memang harta kami tak berarti, tetapi ratusan tahun kami telah menetap di sana. Tak ada seorang pun yang boleh mengusir kami, tidak juga Perhutani.

Karenanya, saya, Ujang bin Sanhari, memohon kepada Perhutani, batalkan semua kontrak kerjaama pengelolaan hutan karena semua itu benar-benar merugikan kami.

Mungkin kalian bertanya? Mengapa dulu kami bersepakat lalu menandatangani?

Agar Bapak dan Ibu tahu, kami menerima, kami bersepakat, kami menandatangani karena kami tak punya pilihan. Karena Anda semua memiliki kuasa yang lebih besar, karena Anda semua memiliki perangkat yang lengkap untuk menundukkan kami sehingga kami tak punya pilihan selain menerima.

Bapak Ibu hakim yang terhormat dan saya muliakan

Dengan segala kerendahan hati, saya memohon pertimbangkanlah untuk memutus bebas sepenuhnya. Karena saya, Ujang bin Sanhari, adalah petani hutan, masyarakat di sekitar hutan, apa yang saya lakukan bukan untuk tujuan komersil. Apa yang saya lakukan bisa dimusyawarahkan dengan Perhutani kemudian pohon yang saya tebang di Blok 40 B merupakan tanaman tumpangsari yang menjadi pokok kerja sama dengan Perhutani adalah pinus, dan saya mempunyai hak atas tanaman yang saya tebang tapi mengapa saya dipidanakan?

Demi Allah dan Rasulluloh saya hanya menebang sebelas pohon dan sisanya bukan perbuatan saya, saya sudah menegaskan ketika di asper di depan Danru di depan penyidik kepolisian resort kuningan tetapi saya terus ditekan oleh Inun dan apep supaya mengakui perbuatan yang sejatinya tidak saya lakukan. Saya tak berdaya dengan tekanan terus menerus. Mereka memaksa dan menjamin tidak akan terjadi apa-apa namun hari ini di depan majelis hakim saya mengutarakan bahwa tekanan dan jaminan tersebut telah merugikan saya. Saya memohon kepada majelis hakim, memberikan keadilan untuk saya, bebaskan saya.

Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa meridhai setiap langkah dan keputusan yang Bapak Ibu tetapkan.

Pledoi Pribadi,

Ujang bin Sanhari

Siaran Pers Lainnya..

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934