Kala Perempuan Petani Cianjur Berjuang untuk Hak Atas Tanah

Uly Mega Septiani

Jalan berkelok, menyusur lembah dan perbukitan, dedaunan hijau dan alang-alang saling bersahut diterpa angin dari gunung. Suasana Desa Cimenteng, Kecamatan Cempaka, Cianjur, Jawa Barat, selayaknya desa-desa yang berada di dataran tinggi lainnya. Keramahan penduduk, melengkapi suasana sejuk pegunungan.

Pagi itu, Idah bersama anaknya yang baru berusia lima tahun sedang duduk di saung pinggir ladang. Perempuan berusia 40 tahun tersebut tengah bercengkrama dengan tiga orang petani laki-laki. Mereka risau akan status tanah garapan mereka yang belum memiliki kejelasan.

Idah bersama tiga petani tersebut merupakan anggota OTL Gunung Padang, salah satu basis tani tingkat lokal Persatuan Petani Cianjur (PPC). Idah berkisah, tanah yang sekarang digarap dan tempati masih berkonflik dengan HGU PT. Harjasari. Perusahaan karet swasta tersebut menguasai 960 hektar yang meliputi dua desa, yakni Desa Cimenteng dan Karyamukti.

Sejak 1970 HGU PT Harjasari sebagian sudah terlantar.  Akhirnya tanah tersebut digarap oleh masyarakat dengan persyaratan harus membatu pekerjaan di perkebunan. Di tahun 1984 masyarakat mulai masif menggarap tanah untuk pertanian dengan perjanjian harus membayar upeti kepada perusahaan. Jenis tanaman yang diperbolehankan oleh perusahaan hanya padi dan dengan pengawasan penuh.

Hingga pada 2000 terjadi pelarangan bagi petani untuk menggarap di tanah HGU PT Harjasari. Bahkan, perusahaan mengintimidasi petanu dengan merusak dan menebang pohong pisang, singkong, serta padi.

Konflik masih terus berlanjut,  sampai di tahun 2012 sudah ada sekitar 287 keluarga petani memberanikan diri menduduki tanah tersebut, yang terus dikuasai hingga saat ini.

Sambil memakan singkong yang dicocol dengan sambal dan kecap, serta terpaan angin yang cukup kencang. Idah kembali bercerita, mengenai perjuangannya sebagai perempuan petani. Menurutnya tanah HGU di desanya sudah tidak dikelola oleh perusahaan. “Harusnya tanah ini dikelola oleh rakyat, yakni petani yang tidak mempunyai tanah,” tuturnya. Ia juga mengutarakan, petani yang mengelola tanah tersebut bukan untuk dikuasai perseorangan, namun untuk mencari nafkah dan memperjuangkan anak-anak bersekolah.

Sebagai perempuan petani, ia merasa harus ikut berjuang bersama dengan laki-laki. Baginya perempuan memiliki kelebihan, yaitu lebih berani dan bertanggung jawab. “Perempuan itu, lebih bertanggung jawab, sebab ia lah yang dekat dengan anak-anaknya dan memikirkan keberlangsungan anak-anaknya di masa depan. Maka ia lebih berani untuk mempertahankan hak atas tanah,” ucapnya dengan lantang.

Perusahaan Harjasari sebelumnya menanam pohon karet untuk diproduksi. Akhirnya, petani melawan dengan menanam Sorgum diiringi dengan Jagung dan Pisang. Mereka tidak ingin menanam komoditas yang sama dengan perusahaan. Sebab, jika mereka menanam komoditas yang sama, berarti mendukung keberadaan perusahaan.

Selain itu, petani perempuan OTL Gunung Padang, untuk membangun solidaritas. Setiap minggunya mereka bertani bersama di tanah kolektif untuk menanam Sorgum. Hal itu, tentunya memiliki makna bahwa tanah memiliki fungsi sosial, tidak ekonomi semata.

Dari pertemuan-pertemuan dan pengelolaan tanah bersama itu, Idah merasa semakin saling menguatkan dengan petani perempuan lainnya. Sebagaimana yang kita tahu, perempuan sering kali dianggap hanya mengurus dapur saja. Tapi Idah bersama dengan petani perempuan lainnya di Cimenteng, membuktikan bahwa perempuan petani mengelola tanah dan sama-sama berjuang dengan petani laki-laki.

Di akhir perbincangan, sambil memangku anak perempuannya, ia melonatarkan harapan. Baginya, pemerintah semestinya berpihak kepada petani kecil, bukan ke perusahaan yang memiliki modal besar. “Perjuangan kami petani perempuan, untuk kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak kami. Jadi seharusnya pemerintah sebagai pemangku kebijakan bisa melihat secara lebih adil,” pungkasnya.

Berita Lainnya

Liputan Khusus

Sekretariat Nasional KPA:

Jl. Pancoran Indah I Blok E3 No.1
Komplek Liga Mas Indah, Pancoran
Jakarta Selatan 12760, Indonesia
Telp: +62 21 7984540 Fax: +62 21 7993934